Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Kamis, 04 Agustus 2016

Cerita Seks Dewasa Kunikmati Bercinta Dengan Sopirku

Unknown

Bercinta Dengan sopirku

                                                     Gambar Bercinta Dengan Sopirku

Bercinta Dengan sopirku

Cerita ini berlangsung waktu saya tengah sendirian si tempat tinggal, saat itu di rumah hanya ada saya serta supirku yg kira2 berusia 45th. Oh ya kenalin dahulu nama saya Devina selvira. Saya termasuk juga sebagai anak sebagai incaran beberapa cowok. Badanku cukup seimbang untuk seusiaku dengan payudara yang tengah namun kencang dan pinggul yang membuat, pinggang serta perutku juga ukurannya cocok lantaran rajin berolahraga, ditambah lagi kulitku yang putih mulus ini. 

Saya pertama mengetahui sex dari pacarku yang selang beberapa saat putus, pengalaman pertama itu membuatku haus sex serta senantiasa menginginkan coba pengalaman yang lebih ramai. Sekian kali saya berpacaran singkat yang senantiasa berbuntut di ranjang. Saya begitu jemu dengan kehidupan seksku, saya inginkan seorang yang dapat membuatku menjerit-jerit serta tidak berkutik kehabisan tenaga. 

Saat itu saya habiz bangun tidur, namun udara dindin yang berhembus bikin badanku terasa horny. saya selalu ke dapur inin bikin teh hangat, namun waktu kedapur kulihat pak Parjono supirku tertidur tanpa ada kenakan pakaian hanya menggunakan celana kolor yang pendek. Tampak diamempunyai tubuh yang tinggi besar dan diisi, kulitnya kehitam-hitaman lantaran kerap bekerja dibawah sinar matahari (dia dahulu bekerja sebagai sopir truk di pelabuhan). 
Saya kerap memergokinya tengah mencermati bentuk badanku, memanglah sih saya kerap menggunakan pakaian yang minim dirumah lantaran panasnya iklim di kotaku.. Demikian halnya saya, saya kerap memikirkan bagaimana apabila saya disenggamai olehnya, seperti apa rasa-rasanya apabila batangnya yang tentu kekar seperti badannya itu mengaduk-aduk kewanitaanku. Namun saat itu saya belum seberani saat ini, saya masihlah beberapa sangsi pikirkan ketidaksamaan status di antara kita. 
namun lantaran mungkin saja perasaanku yang telah tak sabar, saya berpura-pura tak enak tubuh serta kubangunkan pak Parjono untuk membikinkan saya teh hangat & kusuruh untuk mengantar kekamar. Di kamar, kubaringkan badanku ke ranjang. Saat dia ingin keluar saya menghindarnya serta menyuruhnya memijat kepalaku. Dia terlihat tegang serta berulang-kali menelan ludah lihat posisi tidurku itu serta dadaku yang putih agak menyembul lantaran kancing atasnya telah terbuka, terlebih saat kutekuk kaki kananku hingga kontan paha mulus serta CD-ku terungkap. 
Meskipun memijat kepalaku, tetapi matanya selalu terukur pada pahaku yang terungkap. Lantaran terus menerus disajikan panorama seperti itu ditambah lagi dengan geliat badanku, pada akhirnya dia tak tahan lagi memegang pahaku. Tangannya yang kasar itu mengelusi pahaku serta merayap semakin dalam sampai menggosok-gosok kemaluanku dari luar celana dalamku. 
“Ssshhh…Bang” desahku dengan agak gemetar saat jarinya menghimpit sisi tengah kemaluanku yang masihlah terbungkus celana dalam. 
“Tenang non…saya telah daridulu kesengsem sama non, terlebih bila ngeliat non pakai pakaian berolahraga, duh lebih tidak kuat abang ngeliatnya juga” tuturnya merayu sembari selalu mengelusi sisi pangkal pahaku dengan jarinya. 
Parjono mulai menjilati pahaku yang putih mulus, kepalanya masuk kedalam rok miniku, jilatannya perlahan mulai menyebar menuju ke tengah. Saya cuma bisa mencengkram sprei serta kepala Parjono yang terselubung rokku waktu kurasakan lidahnya yang tidak tipis serta kasar itu menyusup ke tepi celana dalamku lantas menyentuh bibir kemaluanku. Tidak cuma bibir kemaluanku yang dijilatinya, namun lidahnya juga masuk ke liang kemaluanku, rasa-rasanya wuiihh…gak karuan, geli-geli enak seperti ingin pipis. Tangannya yang selalu mengelus paha serta pantatku mempercepat naiknya libidoku, terlebih mulai sejak sejak sekian hari paling akhir ini saya belum mengerjakannya lagi.

Tidak lama kemudian, Parjono menarik kepalanya keluar dari rokku, berbarengan dengan itu juga celana dalamku turut ditarik terlepas olehnya. Matanya seperti ingin copot lihat kewanitaanku yang telah tak tertutup apa-apa lagi dari balik rokku yang terungkap. Dia dekap badanku dari belakang dalam posisi berbaring menyamping. Dengan lembut dia membelai permukaannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Sesaat tangan yang satunya mulai naik ke payudaraku, darahku semakin bergolak saat telapak tangannya yang kasar itu menyusup ke balik bra-ku lalu meremas daging kenyal di baliknya. 
“Non, payudaranya bagus amat…. sama bagusnya kaya memeknya, non geram gak saya giniin? ” tanyanya dekat telingaku hingga deru nafasnya terasanya menggelitik. 
Saya cuma menggelengkan kepalaku serta meresapi dalam-dalam elusan-elusan pada daerah sensitifku. Parjono yang terasa memperoleh restu dariku jadi makin buas, jari-jarinya saat ini tidak cuma mengelus kemaluanku namun juga mulai mengorek-ngoreknya, cup bra-ku yang samping kanan di turunkannya hingga dia bisa lihat terang payudaraku dengan putingnya yang mungil. 
Saya rasakan benda keras dibalik celananya yang digesek-gesek pada pantatku. Parjono terlihat begitu bernafsu lihat payudaraku yang montok itu, tangannya meremas-remas serta kadang-kadang memilin-milin putingnya. Remasannya makin kasar serta mulai mencapai yang kiri sesudah dia pelorotkan cup-nya. Saat dia menciumi leher jenjangku merasa olehku nafasnya juga telah memburu, bulu kudukku merinding saat lidahnya menyapu kulit leherku dibarengi cupangan. Saya cuma dapat meresponnya dengan mendesah serta merintih, bahkan juga menjerit pendek saat remasannya pada dadaku mengencang atau jarinya mengebor kemaluanku lebih dalam. Cupanganya bergerak naik menuju mulutku meninggalkan jejak berbentuk air liur serta sisa gigitan di permukaan kulit yang dilewati. Bibirnya pada akhirnya berjumpa dengan bibirku menyumbat eranganku, dia menciumiku dengan gemas. 
Awal mulanya saya hindari di cium olehnya lantaran Parjono perokok jadi bau nafasnya tak enak, tetapi dia bergerak lebih cepat serta sukses melumat bibirku. Lama-lama mulutku mulai terbuka membiarkan lidahnya masuk, dia menyapu langit-langit mulutku serta menggelikitik lidahku dengan lidahnya hingga lidahku juga ikut beradu dengannya. Kami larut dalam birahi hingga bau mulutnya itu seakan-akan hilang, terlebih saat ini saya lebih berani memainkan lidahku didalam mulutnya. Sesudah senang berrciuman, Parjono melepas dekapannya serta melepas ikat pinggang usangnya, lantas buka celana tersebut kolornya. Jadi menyembullah kemaluannya yang telah menegang daritadi. Saya lihat takjub pada benda itu yang demikian besar serta berurat, warnanya hitam juga. Tambah lebih menggairahkan di banding punya rekan-rekan SMU-ku yang pernah ML denganku. 
Dengan tetaplah menggunakan kaos berkerahnya, dia berlutut di samping kepalaku serta memohonku mengelusi senjatanya itu. Akupun pelan-pelan mencapai benda itu, ya ampun tanganku yang mungil tidak muat menggenggamnya, sungguh fantastis ukurannya. 
“Ayo non, emutin kemaluan saya ini dong, tentu yahud rasa-rasanya jika diemut sama non” tuturnya. 
Kubimbing kemaluan dalam genggamanku ke mulutku yang mungil serta merah, uuhhh…susah sekali memasukkannya lantaran ukurannya. Sepintas tercium bau keringat dari kemaluannya hingga saya mesti menahan nafas juga merasa asin saat lidahku menyentuh kepalanya, tetapi saya selalu memasukkan lebih dalam ke mulutku lantas mulai memaju-mundurkan kepalaku. Terkecuali menyepong tanganku ikut aktif mengocok maupun memijati buah pelirnya. 
“Uaahh…uueennakk banget, non telah pengalaman yah” ceracaunya nikmati seponganku, sesaat tangannya yang bercokol di payudaraku tengah asik memelintir serta memencet putingku. 
Sesudah melalui 15 menitan dia melepas kemaluannya dari mulutku, kelihatannya dia tidak ingin cepat-cepat orgasme sebelumnya permainan yang lebih dalam. Akupun terasa lebih lega lantaran mulutku telah pegal serta bisa kembali hirup hawa fresh. Dia beralih posisi diantara ke-2 iris pahaku dengan kemaluan terukur ke kemaluanku. Bibir kemaluanku diungkapkannya hingga mengganga lebar siap dimasuki serta tangan yang satunya menuntun kemaluannya menuju tujuan. 
“Tahan yah non, mungkin saja akan sakit sedikit, namun ke sananya tentu ueenak tenan” katanya 
Kemaluannya yang kekar itu menancap perlahan didalam kemaluanku. Saya memejamkan mata, meringis, serta merintih menahan rasa perih akibat gesekan benda itu pada milikku yang masihlah sempit, hingga mataku berair. Kemaluannya sulit sekali menerobos kemaluanku yang baru pertama kalinya dimasuki yang sebesar itu (punya beberapa rekanku tak seperkasa yang satu ini) meskipun telah dilumasi oleh lendirku.

Parjono memaksanya perlahan-lahan untuk memasukinya. Baru kepalanya saja yang masuk aku sudah kesakitan setengah mati dan merintih seperti mau disembelih. Ternyata si Parjono lihai juga, dia memasukkan kemaluannya sedikit demi sedikit kalau terhambat ditariknya lalu dimasukkan lagi. Kini dia sudah berhasil memasukkan setengah bagiannya dan mulai memompanya walaupun belum masuk semua. Rintihanku mulai berubah jadi desahan nikmat. Kemaluannya menggesek dinding-dinding kemaluanku, semakin cepat dan semakin dalam, saking keenakannya dia tak sadar kemaluannya ditekan hingga masuk semua. Ini membuatku merasa sakit bukan main dan aku menyuruhnya berhenti sebentar, namun Parjonoyang sudah kalap ini tidak mendengarkanku, malahan dia menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Aku dibuatnya serasa terbang ke awang-awang, rasa perih dan nikmat bercampur baur dalam desahan dan gelinjang tubuh kami.
“Ooohh…Non Devina, sayang…sempit banget…memekmu…enaknya !” ceracaunya di tengah aktivitasnya.

Dengan tetap menggenjot, dia melepaskan kaosnya dan melemparnya. Sungguh tubuhnya seperti yang kubayangkan, begitu berisi dan jantan, otot-ototnya membentuk dengan indah, juga otot perutnya yang seperti kotak-kotak. Dari posisi berlutut, dia mencondongkan tubuhnya ke depan dan menindihku, aku merasa hangat dan nyaman di pelukannya, bau badannya yang khas laki-laki meningkatkan birahiku. Kembali dia melancarkan pompaannya terhadapku, kali ini ditambah lagi dengan cupangan pada leher dan pundakku sambil meremas payudaraku. Genjotannya semakin kuat dan bertenaga, terkadang diselingi dengan gerakan memutar yang membuat kemaluanku terasa diobok-obok.
“Ahh…aahh…yeahh, terus entot gua bang” desahku dengan mempererat pelukanku.

Aku mencapai orgasme dalam 20 menit dengan posisi seperti ini, aku melepaskan perasaan itu dengan melolong panjang, tubuhku mengejang dengan dahsyat , kukuku sampai menggores punggungnya, cairan kenikmatanku mengalir deras seperti mata air. Setelah gelombang birahi mulai mereda dia mengelus rambut panjangku seraya berkata
“Non cantik banget waktu keluar tadi, tapi non pasti lebih cantik lagi kalau telanjang, saya bukain bajunya yah non, udah basah gini”
Aku cuma bisa mengangguk dengan nafas tersenggal-senggal tanda setuju. Memang badanku sudah basah berkeringat sampai baju seragamku seperti kehujanan, apalagi AC-nya tidak kunyalakan. Parjono meloloskan pakaianku satu persatu, yang terakhir adalah rok abu-abuku yang dia turunkan lewat kakiku, hingga kini yang tersisa hanya sepasang anting di telingaku dan sebuah cincin yang melingkar di jariku.
Dia menelan ludah menatapi tubuhku yang sudah polos, butir-butir keringat nampak di tubuhku, rambutku yang terurai sudah kusut. Tak henti-hentinya di memuji keindahan tubuhku yang bersih terawat ini sambil menggerayanginya. Kemudian dia balikkan tubuhku dan menyuruhku menunggingkan pantat. Akupun mengangkat pantatku memamerkan kemaluanku yang merah merekah di hadapan wajahnya.Parjono mendekatkan wajahnya ke sana dan menciumi kedua bongkahan pantatku, dengan gemas dia menjilat dan mengisap kulit pantatku, sementara tangannya membelai-belai punggung dan pahaku. Mulutnya terus merambat ke arah selangkangan. Aku mendesis merasakan sensasi seperti kesetrum waktu lidahnya menyapu naik dari kemaluan sampai anusku. Kedua jarinya kurasakan membuka kedua bibir kemaluanku, dengusan nafasnya mulai terasa di sana lantas dia julurkan lidahnya dan memasukkannya disana. Aku mendesah makin tak karuan, tubuhku menggelinjang, wajahku kubenamkan ke bantal dan menggigitnya, pinggulku kugerak-gerakkan sebagai ekspresi rasa nikmat.
Di tengah-tengah desahan nikmat mendadak kurasakan kok lidahnya berubah jadi keras dan besar pula. Aku menoleh ke belakang, ternyata yang tergesek-gesek di sana bukan lidahnya lagi tapi kepala kemaluannya. Aku menahan nafas sambil menggigit bibir merasakan kejantanannya menyeruak masuk. Aku merasakan rongga kemaluanku hangat dan penuh oleh kemaluannya. Urat-urat batangnya sangat terasa pada dinding kemaluanku.
“Oouuhh…Bang !” itulah yang keluar dari mulutku dengan sedikit bergetar saat kemaluannya amblas ke dalamku.
Dia mulai mengayunkan pinggulnya mula-mula lembut dan berirama, namun semakin lama frekuensinya semakin cepat dan keras. Aku mulai menggila, suaraku terdengar keras sekali beradu dengan erangannya dan deritan ranjang yang bergoyang. Dia mencengkamkan kedua tangannya pada payudaraku, terasa sedikit kukunya di sana, tapi itu hanya perasaan kecil saja dibanding sensasi yang sedang melandaku. Hujaman-hujaman yang diberikannya menimbulkan perasaan nikmat ke seluruh tubuhku.
Aku menjerit kecil ketika tiba-tiba dia tarik rambutku dan tangan kanannya yang bercokol di payudaraku juga ikut menarikku ke belakang. Rupanya dia ingin menaikkanku ke pangkuannya. Sesudah mencari posisi yang enak, kamipun meneruskan permainan dengan posisi berpangkuan membelakanginya. Aku mengangkat kedua tanganku dan melingkari lehernya, lalu dia menolehkan kepalaku agar bisa melumat bibirku.
Aku semakin intens menaik-turunkan tubuhku sambil terus berciuman dengan liar. Tangannya dari belakang tak henti-hentinya meremasi dadaku, putingku yang sudah mengeras itu terus saja dimain-mainkan. Gelinjang tubuhku makin tak terkendali karena merasa akan segera keluar, kugerakkan badanku sekuat tenaga sehingga kemaluan itu menusuk semakin dalam.
Mengetahui aku sudah diambang puncak kenikmatan, tiba-tiba dia melepaskan pelukannya dan berbaring telentang. Disuruhnya aku membalikan badanku berhadapan dengannya. Harus kuakui dia sungguh hebat dan pandai mempermainkan nafsuku, aku sudah dibuatnya beberapa kali orgasme, tapi dia sendiri masih perkasa. Dia biarkan aku mencari kepuasanku sendiri dalam gaya woman on top. Kelihatannya dia sangat senang menyaksikan payudaraku yang bergoyang-goyang seirama tubuhku yang naik turun.
Beberapa menit dalam posisi demikian dia menggulingkan tubuhnya ke samping sehingga aku kembali berada di bawah. Genjotan dan dengusannya semakin keras, menandakan dia akan segera mencapai puncak kenikmatan, hal yang sama juga kurasakan pada diriku. Otot-otot kemaluanku berkontraksi semakin cepat meremas-remas kemaluannya. Pada detik-detik mencapai puncak tubuhku mengejang hebat diiringi teriakan panjang. Cairan cintaku seperti juga keringatku mengalir dengan derasnya menimbulkan suara kecipak.
Parjono sendiri sudah mulai orgasme, dia mendesah-desah menyebut namaku, kemaluannya terasa semakun berdenyut dan ukurannya pun makin membengkak, dan akhirnya….dengan geraman panjang dia cabut kemaluannya dari kemaluanku. Isi kemaluannya yang seperti susu kental manis itu dia tumpahkan di atas dada dan perutku. Setelah menyelesaikan hajatnya dia langsung terkulai lemas di sebelah tubuhku yang berlumuran sperma dan keringat.
Aku yang juga sudah KO hanya bisa berbaring di atas ranjang yang seprei nya sudah berantakan, mataku terpejam, payudaraku naik turun seiring nafasku yang ngos-ngosan, pahaku masih mekangkang, celah kemaluanku serasa terbuka lebih lebar dari biasanya. Dengan sisa-sisa tenaga, kucoba menyeka ceceran sperma di dadaku, lalu kujilati maninya dijari-jariku.
Sejak dari itu, Parjono sering memintaku melayaninya kapanpun dan dimanapun ada kesempatan. Waktu mengantar-jemputku tidak jarang dia menyuruhku mengoralnya. Tampaknya dia sudah ketagihan dan lupa bahwa aku ini nona majikannya, bayangkan saja terkadang saat aku sedang tidak ‘mood’ pun dia memaksaku.

Cerita Seks Dewasa Menikamati Indahnya Perselingkuhan

Unknown

Kunikamati Indahnya Perselingkuhan

                                           Gambar Menikamati Indahnya Perselingkuhan

Kunikamati Indahnya Perselingkuhan

Awalannya saya cuma iseng mengobrol isi waktu senggang di saat jam istirahat, Tetapi makin lama Ratih satu diantara staffku yang agak manis jadi penasaran serta ajukan pertanyaan lebih jauh mengenai puncak kesenangan. Ya satu misteri yang nampaknya gampang tetapi sulit disibakkan. 

Memanglah sangat banyak wanita yang belum sadar bakal makna utamanya satu puncak kesenangan, bahkan juga menurut riset cuma 30% wanita yang bisa mencapai puncak kesenangan, banyak beberapa hal yang memengaruhi wanita dalam mencapai puncak kesenangan, baik dari aspek si wanitanya maupun dari aspek prianya atau bahkan juga dari situasi, perasaan, dan lain-lain. Termasuk juga Ratih satu diantara staffku ini, sepanjang menikah 2 th. lantas, dia belum tahu apakah itu puncak kesenangan, yang dia paham cuma rasa enak waktu kemaluan pasangannya masuk kewanitaannya, Serta selesai waktu kemaluan pasangannya menyemprotkan cairan hangat dalam kewanitaannya. 

Saya cuma geleng-geleng kepala mendengar ceritanya, lantas saya korek lebih jauh mengenai perasaan, pemanasan, style, saat, dan sebagainya mengenai hubungan dengan pasangannya, Dengan malu-malu Ratih juga bercerita dengan jujur kalau sampai kini memanglah dia sendiri penasaran dengan apa yang namanya puncak kesenangan tetapi dia tidak tahu mesti bagaimana, yang pasti waktu terkait dengan pasangannya dia cukup pemanasan, bahkan juga pasangannya suka mengoral kewanitaannya hingga banjir, serta sepanjang kemaluan pasangannya masuk sekalipun tak ada rasa sakit, yang ada cuma enak saja tetapi tak bertepi, rasa-rasanya menggantung tak ada ujung, serta tahu-tahu telah selesai dengan keluarnya air mani pasangannya kedalam kewanitaannya. 
“Kira-kira berapakah lama kemaluan pasangan anda bertahan dalam kewanitaan anda? ” tanyaku. 
“Mungkin sekitaran 10 menit” jawabnya tentu. 
“Gaya apa yang digunakan pasangan anda? ” 
“Macam-macam, Pak, jadi hingga menungging segala” 
Saya cuma tersenyum mendengar jawabannya yang polos. 
“Kira-kira berapakah besar kemaluan pasangan anda? ” 
“Berapa ya?, saya tidak paham Pak! ” jawabnya bingung. 
Akupun jadi bingung dengan jawabannya, namun saya ada tak kekurangan akal. 
“Waktu anda genggam miliki pasangan anda gunakan tangan, masihlah ada lebihnya tak? ” 
Ratih diam sesaat, mungkin saja tengah mengingat-ingat. 
“Kayanya masihlah ada lebih, cocok kepalanya, Pak! ” 
Saya tidak bisa menahan senyumku. 
“Maksud anda, ‘helm’nya masihlah muncul? ” 
“Ya! ” Ratihpun tersenyum juga. 
Saya suruh tangannya menggenggam, saya pandangi dengan cara bercintaama tangannya yang tengah mengepal, yang ada dalam genggamanku, sungguh halus sekali, Tetapi saya sadar kalau saya di tempat umum. 
“Aku prediksikan kemaluan pasangan anda memiliki ukuran 10-14 cm, bermakna masihlah normal, Tih! ” 
“Bagaimana dengan kekerasannya? ” tanyaku lagi. 
“Keras sekali, Pak, seperti batu! ”

Saya diam sesaat coba berpikir mengenai penghalangnya mencapai puncak kesenangan, sebab dari perbincangan tadi kelihatannya tak ada permasalahan dalam kehidupan bercintanya, namun mengapa Ratih tak dapat mencapai puncak kenikmatannya? 
“Kok diam Pak? ” 
“Aku lagi mikir pemicunya. ” 
“Apa mungkin saja permasalahan lamanya, Pak? Sebab kelihatannya saya sedikit lagi ingin meraih ujung rasa enak, namun pasangan saya keburu keluar” terangnya.  
Saya diam sesaat, coba mengolah kata-katanya, namun tidak lama Ratih sendiri menyanggahnya. 
“Tapi, mustahil kali, Pak, sebab meskipun terkadang lebih lama dari sepuluh menit, namun tetaplah saya terasa nyaris di ujung selalu, tanpa ada pernah teratasi. ” 
Saya sedikit tahu tujuannya, 
“Maksud anda, bila 10 menit anda maunya semenit lagi? Tetapi bila 12 menit atau 15 menit juga anda maunya tetaplah semenit lagi? ” tanyaku. 
“Ya, benar, mengapa ya Pak? ” 
Saya saat ini mulai tahu posisi sesungguhnya, besar kemungkinan ada titik dalam kemaluannya yang belum tersentuh dengan cara optimal, Itu rangkuman sesaat, Tetapi saya belum pernah mengatakan apa-apa, keburu jam istirahat kerja habis. 
“Ya telah Tih, kelak kita terusin lewat SMS, oke? ” 
“Oke deh! ” sahutnya riang sembari meninggalkan saya. 
Di meja kerjaku, saya kembali pikirkan betul-betul permasalahan yang Ratih hadapi, sesungguhnya ada kemauan untuk memakai peluang dalam kesempitan, lantaran sesudah saya sebagian fikir Ratih miliki keunggulan di Payudara serta bokongnya yang besar juga kulitnya yang bersih dengan rambut-rambut halus, Tetapi Ratih akrab dengan pasanganku, serta saya sendiri kenal telah lama dengannya serta pasangannya, ini yang jadi permasalahan, Lama saya berpikir, pada akhirnya saya putuskan untuk coba menolongnya semampuku tanpa ada menginginkan apa pun darinya, Saya meyakini saya dapat membantunya berbekal pada pengalamanku sampai kini. 

Saya kirim SMS padanya, “Tih, Kelihatannya permasalahan anda agak kompleks, Bila pernah, dapat tak kelak pulang kerja kita mencari tempat yg enak utk mengobrol? ” 
5 menit saya tunggulah belum ada jawaban juga, Saya jadi tegang sendiri, bebrapa janganlah dia geram, lantaran saya dikira kurang ajar, Namun untunglah tidak lama HPku bergetar 2x tandanya SMS masuk, Saya segera saksikan pengirimnya Ratih, saya baca berisi. 
“Boleh, namun janganlah ditempat sepi ya.., kata nenek itu berbahaya” 
Saya tersenyum membaca balasannya yang sedikit bergurau, lantas saya balas kembali, 
“Tih, janganlah salah tangkap ajakanku ya.. saya hanya tak enak saja bila kita sangat mencolok, lantaran anda pasangan orang & saya pasangan orang juga” 
Secara singkat Jam 5 sore kami janjian ketemu di satu tempat tinggal makan yang nyaman di daerah Jakarta timur, Situasi tempat tinggal makan yang agak temaram memberi santai percakapan kami, Sembari makan kami meneruskan percakapan kami yang tadi siang, Saya sampaikan rangkuman sementaraku kalau ada kurang sentuhan di daerah kemaluannya, saya anjurkan supaya kelak malam mencari titik itu apabila telah ketemu saya suruh Ratih memohon pada pasangannya untuk menghimpit lebih kuat waktu jalinan intim, Ratih mengangguk tahu. 
“Menurut Ayah, apakah badan saya cukup bagus? ” 
Mendadak saja Ratih ajukan pertanyaan seperti itu. Saya kaget mendengarnya, bermakna peluang Ratih kurang yakin diri dengan badannya, serta menurut yang saya tahu ini begitu beresiko untuk mencapai puncak kesenangan.

“Tih, dalam satu jalinan intim, Janganlah terasa badan anda buruk atau kemaluan anda tak wangi atau payudara anda buruk atau apa sajakah yang menurut anda negatif, itu aspek yang begitu utama dalam mencapai puncak kesenangan, Ingat Tih, bila badan anda tak bagus kan mustahil pasangan anda ingin mencumbu anda, serta ingin terkait dengan anda! ” 
“Justru anda mesti berpikir kalau muka serta badan anda begitu bagus, buktinya pasangan anda minta terus-terusan, kan? ” 
“Tapi, saya tak nyaman dengan perut saya yg tidak ramping” 
“Tih, yang lebih gendut dari anda banyak, ingat itu, lagian menurutku perut anda tidaklah terlalu gendut, Umum saja! ” jawabku tegas. 
“Pokoknya malam ini, anda cobalah untuk menyingkirkan rasa tak yakin diri anda, serta waktu ada sentuhan nikmat yang anda katakan tak berbuntut, suruh pasangan anda menekannya lebih kuat, itu saja dahulu, besok saya tunggulah beritanya! ” 
Saya jadi berkesan menyuruh, mungkin saja lantaran dikantor Ratih bawahanku, hingga jadi rutinitas. Lantaran saat telah memberikan jam 19. 00 kami juga pulang ke tempat tinggal semasing, saya antar Ratih hingga tempat dia umum menanti angkot. 

Esok paginya, Saya barusan ngopi serta HP baru saya aktifkan, Telah ada pesan dari Ratih, bunyinya singkat, “Belum sukses, Pak! ”. 
Saya saksikan di kirim jam 23. 10 malam, bermakna peluang Ratih mengirimnya waktu baru usai terkait dengan pasangannya. 
Hingga dikantor saya baru membalas SMSnya. 
“Memang mengapa? ” 
Tidak lama Ratih juga membalasnya. 
“Tidak tahu mengapa, apa kelak sore kita dapat ketemu lagi, Pak?, saya terasa nyaman mengobrol dengan Ayah. ” 
Saya berpikir mengenai makna pesannya, Apakah dia mengajakku selingkuh? Atau cuma perasaanku saja? Atau memanglah dia cuma menginginkan mengobrol saja? Sebagai lelaki terang saya mustahil menolaknya, Sorenya kami janjian ditempat yang kemaren, serta ungkapan Ratih yang jujur begitu mengagetkanku. 
“Pak, selalu jelas, hasrat saya untuk meriah puncak kesenangan jadi lebih kuat, namun herannya jadi saya inginnya dari Ayah, Entahlah saya meyakini sekali saya dapat mencapainya berbarengan Bapak” 
Jantungku merasa berhenti berdetak mendengarnya, belum usai saya menentramkan fikiranku, Ratih kembali meneruskan perbincangannya. 
“Tapi bukanlah bermakna saya menginginkan terkait dengan Ayah lho, saya cuma menginginkan tahu mengapa perasaan saya begini? ” 
Saya cuma diam, tetapi saya mengambil rangkuman dalam hati kalau peluang Ratih berkesan dengan saya lantaran saya atasannya, mungkin dia tanpa ada sadar mengagumi akan lewat cara kerjaku, atau apalah yang terkait dengan pekerjaan, Lantaran bila dengan cara fisik mustahil, tambah lebih ganteng serta atletis pasangannya daripada saya. 
Tetapi hal semacam ini tak saya ungkapkan padanya. 
Situasi hening di antara kami sebagian waktu, namun mendadak saja tangan Ratih mencapai tanganku, 
“Pak. ” Cuma itu yang keluar dari mulutnya 
Tatapan mata kami beradu, Saya lihat ada gairah di sana, Saya balas meremas jarinya, Sentuhan halus kulitnya merasa menyebabkan percik-percik gairah diantara kami, Pada akhirnya saya beranikan diri untuk mengajaknya, 
“Tih, Bagaimana bila kita diskusi segera dengan praktik untuk mencapai puncak kesenangan anda? ” suaraku merasa agak bergetar, mungkin saja agak canggung. 
“Terserah Ayah deh” jawabnya manja sembari mencubit tanganku. 
Pucuk dicinta ulampun tiba, saya selekasnya membayar makanan kami serta segera menuju hotel, selama jalan ke hotel, jari-jari kami sama-sama bertaut mengantarkan kehangatan ke jiwa kami, Serta setelah tiba di kamar hotel yang asri, Kami lamgsung mulai.. Walau awalannya agak canggung, Tetapi pada akhirnya kami bisa nikmati semua, 
Masih tetap dalam kondisi kenakan pakaian, saya memeluk badan Ratih yang padat, bibir kami sama-sama melumat lembut, terkadang lidah kami sama-sama kait serta sama-sama dorong, hingga gairah di dada kami makin membuncah, Satu per satu baju kami bertebaran dilantai, bersamaan dengan nafsu kami yang makin menggebu, Saat ini Semua organ badanku bekerja untuk penuhi keinginan Ratih, saya rebahkan badan mulusnya di ranjang, sungguh panorama yang indah serta mendebarkan, dengan kulit badan yang putih bersih kontras dengan rambut-rambut halus dipermukaan kulitnya terlebih di kemaluannya yang demikian lebat menghitam. Saya segera mengelus payudaranya yang padat dengan lembut, sesaat mulut serta lidahku menciumi serta menjilati centi untuk centi badannya tanpa ada teratasi,

“Tubuh kamu bagus sekali, Tih!” Aku mencoba memberinya rasa percaya diri.
Sementara Jilatanku sudah sampai pada kemaluannya, aku sibakkan rambutnya dengan lidahku, aku kemut lembut klitorisnya, kadang lidahku menusuk langsung kemaluannya, Jari-jariku ikut membantu memberi kenikmatan dengan memilin-milin puting payudaranya yang semakin mencuat, Sehingga membuat Ratih mengerang dalam nikmat, Sementara Ratih pun tidak tinggal diam, dia balas mengelus dadaku, kadang ujung dadaku di pilinnya, Tangan yang satunya lagi meremas-remas dan mengocok kemaluanku sehingga semakin meregang kaku dalam genggamannya, Yang aku yakin berdasarkan ceritanya pasti punyaku lebih besar dari pada punya pasangannya, Gairah yang membuncah didadaku membuat aku lupa bahwa aku punya tugas untuk mengantarnya meraih puncak kenikmatan.
Tubuh kami berguling-guling dikasur saling memberikan rangsangan dan kenikmatan, hingga akhirnya Ratih sendiri yang tidak tahan dan mengambil inisiatif, dia langsung mengangkangi tubuhku, dan langsung memegang kemaluanku untuk dibimbing kedalam lubang surganya, Perlahan, centi demi centi, kemaluanku memenuhi rongga kemaluannya berbarengan dengan rasa nikmat dan hangat dikemaluanku, Cengkraman kemaluannya yang begitu kuat terasa mengurut kemaluanku, Ratih terus menggoyangkan bokongnya yang bulat padat, Tanganku memilin kedua putingnya, butir-butir keringat mulai membasahi tubuh kami berdua, tak lama Ratih berteriak histeris dan menggigit pundakku, tubuhnya mengejang kaku, dan wajahnya agak memerah melepas puncak kenikmatannya,
Aku berhasil mengantarnya meraih puncak kenikmatan, Tubuhnya diam sejenak diatas tubuhku.
“Terima kasih, Pak” ia mencium keningku.
“Saya masih mau lagi” ucapnya serak.
Sungguh diluar dugaan, mungkin karena baru kali ini dia meraih puncak kenikmatan, Ratih begitu liar, hanya beberapa detik, tubuhnya mulai bergoyang diatas tubuhku, Dan anehnya lagi, Hampir disetiap gaya Ratih bisa meraih puncak kenikmatannya begitu cepat, Mungkin ada 6 kali dia sudah puncak kenikmatan tapi dia belum puas juga, sementara aku sendiri bersusah payah menahan puncak kenikmatanku, Aku benar-benar ingin memuaskan dahaganya, Apalagi saat gaya doggy, sambil meremas buah bokongnya yang bulat, aku benar-benar tak kuat lagi menahan semprotan dalam air maniku, sentuhan buah bokongnya di pangkal kemaluanku menambah sensasi tersendiri.
“Tih, aku mau keluar, di dalam atau di luar?” sambil aku mempercepat kocokanku.
“Di dalam aja Pak, cepat sodok yang kuat!” erangnya.
Akhirnya Seluruh tubuhku bagai tersetrum nikmat, aku melepas puncak kenikmatanku, menyemburkan cairan hangat ke dalam kemaluan Ratih yang telah basah berbarengan dengan kedutan-kedutan kecil hangat dari dalam lubang kemaluan Ratih.
Yah, kami puncak kenikmatan berbarengan, Sungguh nikmat sekali.
Waktu sudah menunjukan pukul 9 malam, namun Ratih kelihatannya belum puas juga, aku sampai bingung sendiri, biasanya pasanganku sekali puncak kenikmatan tidak bisa lagi puncak kenikmatan, Namun memang pernah aku baca ada wanita yang seperti Ratih.
Akhirnya waktu jualah yang harus memisahkan kami, kembali ke kehidupan nyata, Aku dengan pasanganku dan Ratih dengan pasangannya, Namun sejak saat itu hubungan kami semakin hangat membara, Ada satu kelebihan Ratih yang tidak bisa aku lupakan, Kemaluannya sangat mencengkram meskipun sudah puluhan kali kami berhubungan, Pernah aku Tanya katanya dia sering minum jamu, Dan Ratih sendiri pun jelas sangat membutuhkan puncak kenikmatan dariku, Karena terakhir cerita dia belum bisa meraih dengan pasangannya, entahlah sampai kapan.

Cerita Seks Dewasa Pesta Seks Dengan Teman Kostku

Unknown

Pesta Seks Dengan Teman Kostku

                                                     Gambar Teman Kostku Yang Seksi

Pesta Seks Dengan Teman Kostku 

Saya seseorang mahasiswa di satu perguruan tinggi swasta di Yogyakarta. Panggil saja saya Hilarius. Cerita ini adalah cerita fakta saya yang hingga sekarang ini masihlah berjalan walau saya akui saya jemu serta menginginkan mencari pengalaman lain dengan wanita yang tidak sama juga. 

Cerita bermula dari cerita pacaran saya dengan Shena, seseorang mahasiswi yang tidak sama universitas dengan saya. Sesudah saya berpacaran dengannya sepanjang dua bln., barulah Shena memperlihatkan segi kehidupan aslinya, kalau dia penganut sex bebas. Kondisi itu saya kenali dari perkataannya sendiri saat saya usai makan dengannya di satu warung mahasiswa khas Yogyakarta. Saat itu dia narasi bila sepanjang tiga bln. dia tak pernah disentuh lelaki termasuk juga saya. 

Tujuannya sudah pasti rasakan kesenangan seksual yang sampai kini dipenuhinya dari bekas pacarnya yang terdahulu sebelumnya saya. Kontan saya kaget berat mendengar hal semacam itu. Gagang kemaluan saya segera tegak serta seolah menginginkan loncat keluar. 
“Kenapa kamu mendadak jadi horny begini..? ” bertanya saya. 
“Aku tiga hari ini habis nonton BLUE FILM bareng kawan-kawan kosku.., ” jawabnya, 
“Ayolah.., kamu mauya..? ” pintanya. Saya makin tak karuan mendengar permintaannya itu sembari menggelayut di lenganku dengan manja. Pada akhirnya kuputuskan untuk meladeninya, walau saya belum pernah mengerjakannya sekalipun dengan wanita manapun. 
Dia terlihat suka sekali mendengar kesediaanku meladeninya malam itu. Di kepalaku mulai muncul fikiran-pikiran yang kotor sembari berfantasi dengan kemolekan badannya yang sintal, langsing serta diisi itu (payudaranya memiliki ukuran 32A, kurang lebih segitu deh). 
Saat itu juga saja motorku segera kubawa ke arah tempat kost-nya yang memanglah bebas, serta lelaki bisa masuk, lantaran memanglah tetangga sekitaran berjarak agak berjauhan dengan tempat tinggal itu. Hingga di kost-nya, saya memarkirkan motorku serta segera digandeng masuk kedalam kamarnya. 
Rekan-rekan satu kost-nya segera saja menghina kami saat kami barusan masuk, 
“Waaahh, telah kebelet ya.. setelah yang tempo hari itu..? ” kata salah seseorang dari mereka serta segera disambut sorakan yang lain. 
Saya cuma diam saja, tengah Shena tertawa kecil sembari berkata, 
“Biarin..  Orang gue juga kepengen kok..  ” 
Sesampainya di kamar, Shena bergegas mengunci pintu serta segera menubrukku hingga saya tersungkur di kasurnya. Dia mulai menerkam bibirku dengan ciumannya yang penuh nafsu. Saya telah tak ada fikiran untuk hentikan perbuatannya itu. Saya segera meladeni ciumannya yang ganas itu dengan ganas juga. 
Tangan Shena mulai merayap di kemaluanku yang masihlah tertutup celana. Saya tidak ingin kalah juga, kusergap payudaranya dengan remasan yang lembut sembari kulepaskan satu persatu kancing pakaiannya. Pada akhirnya dia juga berdiri lantaran melihatku mulai bernafsu serta telah mulai buka pakaiannya. Dia mulai membantuku buka bajuku sampai celana serta sekalian celana dalamku lepas dari badanku serta dilemparkannya saja ke pinggir ranjangnya. 
Demikian halnya demikian sebaliknya, kulucutkan pakainnya sampai kami keduanya sama telanjang bulat. Tanpa ada fikir panjang, saya direbahkannya diatas kasur dalam posisi duduk, serta saat ini berwajah telah ada pas di depan Gagang kejantananku yang telah tegak berdiri. 
“Aku kangen sama kemaluan lelaki..  ” tuturnya sembari mengocok-ngocok lembut Gagang kemaluanku. 
Saya makin menggeliat. Baru pertama kalinya Gagang kemaluanku dikocok sama cewek. Kocokannya makin merasa serta saya makin mendesah hebat. Tidaklah sampai dua menit dia mengocok, mendadak mulutnya diarahkannya ke Gagang kejantananku serta ia juga mulai mengulumnya. Hilang ingatan..  Sensasi yang mengagumkan. Saya berkesan dengan permainan mulutnya, sesekali dihisap, dimainkan memakai gigi, dikulum, dijilat serta banyak lagi deh. 
Sesudah agak lama serta saya juga telah mulai begitu terangsang, kuangkat dia ke sebelahku serta saat ini saya yang berlutut di lantai, tengah Shena yang saat ini duduk di kasur. Saya telah tak tahan menginginkan coba rasakan menjilati kepunyaannya yang gundul tidak ada selembar bulu juga itu, lantaran nampaknya Shena telah mencukurnya. 
Saya mengawali dengan mempermainkan kemaluannya terlebih dulu memakai jari-jariku. 
“Sssttt… aaahhh… selalu..  ” rintihnya saat jariku mulai masuk daerang liang senggamanya. 
Saya mulai mempermainkan nafsunya dengan jari-jariku, dia mulai meronta dengan mengangkat-angkat pantatnya. Tak lama kemudian saya mulai menjilati dengan semua jenis langkah di lembah yang gersang itu, dari mulai kumasukkan lidahku ke lubangnya hingga kuputar-putar di lipatannya yangmembuat Shena makin meronta seperti orang yang kerasukan birahi.

Sekitaran 10 menit saya memainkan liang senggamanya, Shena mulai tak tahan. 
“Maaass… akuuu.. maauu.. keluarr… aaahhh… masukin saja pake… Gagangmu… Mass.., uuuhh… aaahh..  ” rontanya sembari mengangkat-angkat selalu pantatnya, sedang kepalaku masihlah ditekannya, seolah dia minta janganlah dilepaskannya lidahku pada lembahnya. 
Saya tak mempedulikan rintihannya sampai satu waktu, “Seerr… haaahh… haaahh..  ” Shena mengelinjang hebat rasakan orgasmenya. 
Liang kemaluannya tetaplah tak kubiarkan menganggur, saya masihlah mempermainkan liangnya itu dengan jariku. Shena masihlah meronta. Segera dia sergap Gaganganku, dikocoknya serta dikulumnya dengan penuh semangat. Saya sedikit meronta lantaran seolah Shena membalas perlakuanku kepadanya. 
Pada akhirnya saya segera saja merebahkannya dalam posisi telentang, saya mulai menuntun Gagang kejantananku yang masihlah tegang hebat itu ke liang senggamanya, serta, “Slepp..  ” Gaganganku telah masuk penuh. Saat kemaluanku itu masuk penuh, Shena merintih, 
“Haaahh.. Maaasss.. goyang..  ” rintihnya manja. 
Kuturuti saja kata-katanya, saya mulai menggoyang pinggulku serta menyodok-nyodok lubang kenikmatannya dengan Gagang kejantananku. Rintihan untuk rintihan bertukaran keluar dari mulut kami. Hingga pada akhirnya Shena makin menggelenjang tak menentu, saya tahu bila dia telah ingin orgasme lagi. Lihat tanda-tanda itu, segera saja kupercepat gerakanku hingga pada akhirnya, 
“Serr.. serr.. serr..  ” keluarlah cairan kesenangan itu dari liangnya. 
“Stop… Stoop dulu… hhuuhhh… huuhh.. haaahh, janganlah.. dicabut Mas..  Biarin saja.. ” pintanya. 
Saya juga tak mencabut kemaluanku serta saat itu juga kurasakan Gagang kejantananku dihisap-hisap liang kemaluannya, gilaa..  sangat nikmat. Selang beberapa saat saya dibaringkan ke kasur denganposisi telentang. Saat ini posisi Shena ada diatas dalam kondisi duduk sembari mengocok Gaganganku serta menuntun lagi ke arah liang kemaluannya. 
“Sleepp..  ” 
“Oohh.. liangmu enak banget Say..  ” kataku. 
“Punya anda juga buat saya hilang ingatan Mas..  ” tuturnya sembari menaik-turunkan badannya diatas badanku. 
Tanganku tak diam saja, kuraih payudaranya serta kukulum, kuhisap payudaranya bertukaran sambilkumulai meremas bertukaran tanpa ada berhenti. Rontaan Shena makin hebat serta makin kelojotan dia. Saya juga mulai tak tahan, lantaran posisi berikut yang paling kusukai, lantaran tangan serta mulutku akan tidak berhenti hinggap dibagian badan wanita yang paling kusukai, yakni payudara. 
Sesudah sekitaran 15 menit kami sama-sama menggenjot birahi, pada akhirnya rasa-rasanya saya tidak bisa lagi menahan hasratku meledakkan laharku. 
“Saayy… saya maauuu keluar Saayy..  ” rintihku. 
“Tunggu saya Massss… nanti keluarnya saya kocokin saja..  ” kata Shena yang membuatku kaget 1/2 mati serta segera memikirkan bagaiamana enaknya dikocokin tangannya saat ingin orgasme. 
Sesaat kemudian, saya rasakan jepitan pangkal paha Shena makin keras, serta rontaannya makin tak teratur, sedang saya juga sedikit mulai rasakan ingin keluar. Saat itu juga Gagang kemaluanku rasakan ada cairan yang mengguyur dari dalam rahimnya sembari Shena tampak kelojotan tak teratur. 
Saya belum rasakan ingin keluar juga waktu itu. 
“Shena, keluarin saya juga dong..  ” pintaku merintih sembari meremas buah dadanya yang ranum itu. 
Saat itu juga dia telah mengocok Gagang kejantananku serta segera membasahinya dengan ludahnya, dihisapnya serta dikulumnya seperti tengah makan es cream. Tak ada semenit saya telah menumpahkan air maniku ke lehernya sembari kocokannya selalu jalan tak berhenti. Setelahitu dia bersihkan Gagang kemaluanku dengan jilatannya.

“Aku ntar malem pengen lagi ya..?” pintaku.
“Aku juga pengen lagi kok Mass.. ” katanya dengan disertai ciuman lembut di bibirku.
Sejak saat itu aku mulai ketagihan hubungan seks dan kami berdua tidak pernah sungkan-sungkan lagi kalau lagi ingin melakukan hubungan seks. Pernah kami melakukannya sehari tiga kali. Bahkan kami pernah hanya melakukan 10 hari dengan oral seks saja, mengingat saat itu Shena baru menstruasi.
Namun petualngan seksku belum berhenti sampai disitu. Pernah suatu ketika, permainan hubungan seks kami diintip Ibu kost Shena dan dua orang teman kost-nya. Hingga saat Shena sudah lulus dan kembali ke kota asalnya, aku masih tetap main ke kost Shena karena setelah kepergian Shena, aku jadi simpanan Ibu kost Shena dan seorang teman kost Shena yang juga pernah mengintip kami melakukan hubungan seks itu sampai sekarang. Aku jadi benar-benar ketagihan sampai sekarang.

Cerita Seks Dewasa Keperawananku Kuberikan Kepada Pamanku

Unknown

Keperawananku Kuberikan Direnggut Pamanku

                                              
                                Gambar Keperawananku Kuberikan Kepada Pamanku

Keperawananku Kuberikan Direnggut Pamanku

Cerita ini terjadi sekian tahun yang lalu ketika Aqu masih berumur 15 tahun. Aqu bersekolah di sebuah SMP favorit di kotAqu dan ketika itu masih duduk di kelas 3 SMP. Aqu adalah anak terakhir dari 3 bersaudara dengan kakakku yang tertua telah menjadi dokter umum dan kakakku yang satu lagi masih kuliah di salah satu perguruan tinggi negri.

Karena melihat keberhasilan kedua kakakku, maka ayah dan ibuku pun menuntut hal yang sama dariku. Setiap kali Aqu mendapatkan nilai yang jelek, pasti habislah Aqu terkena amarah dari kedua orangtuAqu. Bahkan ayah sering memukuliku dengan sabuknya.

Ketika itu Aqu mendapatkan nilai yang jelek di mata pelajaran sejarah, karena Aqu memang tidak terlalu pandai di bidang itu. Karenanya, makian dan sabetan ayah pun harus kuterima dengan lapang dada. Pamanku yang bernama Willyata, masih berumur 26 tahun sudah sering membelAqu ketika ayah marah karena Aqu mendapatkan nilai buruk. Tapi tampaknya pembelaannya sia-sia saja karena semakin dia membelAqu, bukannya kasihan, ayah justru semakin geram dan Paman Willy selalu saja terkena makiannya pula.
Sambil menangis, Aqu pun mengadu ke Paman Willy tentang perlakuan ayah di kamarnya yang persis berada di sebelah kamarku.
“Ayah jahat, Paman”
“Sudah Martina, kamu tenang saja”
“Martina pengen mati aja Paman, badan Martina sakit semua dipukulin Ayah terus”
“Hush jangan bilang gitu Martina, ayah tetap sayang kok sama kamu”
Lalu Aqu menyingkapkan dasterku dengan tujuan menunjukkan pahaqu yang sudah berwarna kebiru-kebiruan terkena pukulan ayah. Lalu Paman Willy beranjak mengambil body lotion dan membaringkan Aqu yang masih terisak-terisak di kasurnya.
“Sudah diam, jangan menangis terus, sini Paman pijitin”
Paman Willy dengan kelembutannya mengoleskan body lotion itu di pahaqu dan memijit-memijit pahaqu yang telah terbentang tanpa penutup di depan matanya.
“Auch Paman pelan-pelan, sakit Paman”
“Iya, Paman pelan-pelan kok Martina.”
Karena memang Aqu sudah akrab dengan Paman Willy sejak Aqu kecil, kami tumbuh bersama lebih sebagai kakak adik daripada hubungan paman-kemenakan. Lalu Paman memegang bahuku untuk menenangkanku, tapi karena punggungku dan bahuku juga terkena pukulan ayah, maka Aqu pun mengerang kesakitan.
“Auch Paman sakit sekali punggung Martina”
“Coba kamu lepas saja daster nya Martina, biar Paman pijitin juga punggung kamu”
Aqu pun mengambil posisi tengkurap ketika Paman Willy memijat-memijat punggungku. Sesekali, tangannya yang lembut menyentuh bagian paling sensitif dari tubuhku, terutama karena memang Aqu adalah remaja puber yang baru saja mendapatkan perubahan-perubahan di tubuhku. Tangannya sesekali menyentil bagian samping buah dadaqu, dan setiap kali itu pula badanku menyentak-menyentak.
“Kenapa kamu Martina, sakit ya?”
“Nggak kok Paman, cuman Martina kaget”
“Ooh, itu normal kok, tandanya kamu sudah dewasa”
Pipiku memerah menahan malu, karena ternyata Paman Willy mengetahui apa maksudku. Lalu dengan cepat Paman Willy membalikkan badanku dan dia dapat melihat buah dadaqu yang mulai tumbuh besar dengan pentilnya yang mencuat dibawah miniset yang kupakai karena Aqu mulai terangsang, terutama karena pandangannya yang menyapu bagian-bagian tertentu dari tubuhku itu.
“Wah Martina, kok buah dada kamu sudah sebesar itu kamu masih pakai miniset?”
“Iya Paman, habis Martina tidak tahu harus bagaimana”
“Besok pulang sekolah ikut Paman yah ke mall kita beli BH buat kamu”
“Paman serius?”
“Iya, tapi kamu tahu nggak ukurannya?”
“Wah kalau itu sih Martina nggak tahu Paman, gimana dong?”
“Coba sini Paman lihat”
Dengan cepat pula Paman Willy menarik miniset yang kupakai, dan refleks tanganku menutupi buah dadaku yang tidak ditutupi dengan apapun juga. Perlahan tangan Paman Willy menarik tanganku yang menutupi buah dadaku itu.
“Gila, Martina, buah dada sebesar itu anda masihlah gunakan miniset. Bila anda di sekolah, tentu kawan-kawan anda kerap lihat pentil anda dong”
“Iya Paman, kawan-kawan Martina yang cowok terkadang ada yang jahil pura-pura tidak berniat menyenggol Martina punya”
“Tuh kan, barang segitu gede mustinya dibungkus yang bener, Martina”
Lantas, dengan tangannya Paman Willy mulai memegang-memegang buah dadaku, mengusap-mengusapnya dengan body lotion namun tak menyentuh pentilnya.
“Wah ini tentu ukurannya 34B”
“Kok Paman tahu? ”
“Paman hanya kurang lebih, Martina, besok kita bertanya saja sama Mbaknya yang jagalah toko, OK? ”
Sebelumnya Aqu menjawab pertanyaan Paman Willy, mendadak mulutnya telah “ngempeng” di pentilku, lantaran kaget badanku tersentak serta bukannya menghindar, Aqu juga terlebih membusungkan dadAqu ke arah Paman Willy. Tiba-Tiba Paman Willy melepas mulutnya dari pentilku, serta saat itu juga badanku makin maju ikuti arah kepalanya.
“Enak tidak Martina? ”
Dengan malu-malu Aqu mengangguk serta dengan liar Paman Willy mulai memegang-memegang buah dadaku lagi, menggoyang-menggoyangkannya sembari memilin-memilin putingku yang telah keras sekali. Lantas, Paman Willy keluar dari kamar serta saat dia kembali, bakal berlangsung momen yang lebih asyik lagi.
Paman Willy kembali pada kamarnya saat Aqu masihlah mengelus-mengelus putingku sendiri.
“Lho, Martina, anda lagi ngapain? ”
“Um, um, lagi cobain sendiri Paman, nyatanya geli-geli bagaimana gitu enak kok”
Paman Willy nyatanya mengambil 2 butir telur dari almari es. Lantas, dia mengikat ke-2 tanganku ke belakang (di belakang pinggang), serta kemudian mencium bibirku. Saat badanku tersentak lantaran Aqu rasakan pentilku sudah beradu dengan benda dingin yang aneh, tanpa ada kusadari nyatanya Paman Willy mengelus-mengelus kan telur-telur itu tadi ke ke-2 pentilku. Lantaran aliran dingin itu juga, Aqu meronta-meronta kegelian serta tak berdaya lantaran ke-2 tanganku masihlah terikat. Aqu cuma dapat memaju mundurkan dadAqu saja serta malah itu memberi keasyikan sendiri saat ke-2 putingku kembali menyentuh telur yang dingin itu.
“Paman, Martina ingin kencing. ”
“Kencing saja di sini, Martina, tidak ayah kok”
Lantaran memanglah Aqu belum pernah terkait seks terlebih dulu, cairan yang keluar kental serta tidak henti-hentinya itu nyatanya lendir birahiku yang kuketahui sesudah Paman Willy sendiri menerangkannya kepadAqu.
Sesudah “kencing” itu, Aqu rasakan tubuhku lemas terkulai. Dengan tangan yang masihlah terikat, Paman Willy mulai menanggalkan celana dalamku.
“Paman, janganlah di buka Paman, Martina baru saja saja kencing”
“Martina, agar Paman bersihkan kencingnya”
Lantas Paman Willy melepas celana dalamku yang telah basah oleh lendir kewanitaanku. Dengan liar, Paman Willy menjilati kemaluanku yang telah basah itu.
“Geli ah Paman, kok Paman tidak jijik jilatin kencing Martina? ”
“Hmph, hmph, kemaluan anda kenyal Martina”
Malah mendengar kalimat jorok dari Paman Willy tersebut berahiku muncul lagi serta saat kemaluanku telah rasakan nyot-nyotan yang hebat, Aqu juga berteriak.
“Sudah Paman, Martina ingin kencing lagi”
Lantaran Paman Willy betul-betul melepas lidahnya dari kemaluanku, pinggulku dengan selangkangannya yang sudah terbuka lebar serta berlendir itu juga terangkat. Lantas sesudah sebagian waktu, Paman Willy berbalik menjilatiku lagi. Serta tidak lama lantas, Aqu juga mengerang hebat.
“Arghh Paman, Martina kencing lagi Paman”
Cairan kental yang deras (lebih hebat dari yang pertama kurasakan) mengalir kembali di kemaluanku. Paman Willy mulai menanggalkan bajunya serta Aqu kaget lihat kemaluannya berdiri tegak menantang.
“Lho kok dapat berdiri gitu sih Paman? ”
“Memang itu kelebihan lelaki, Martina, ade Paman ini dapat pula lemes serta lucu namun dapat pula jadi gede serta tegak”
Pelan-Pelan Paman Willy mengarahkan kemaluannya ke kemaluanku.
“Paman, ingin dimasukkan kemana Paman, kemaluan Martina tak berlubang”

Dengan sabar Paman Willy berkata,
“Setiap kemaluan perempuan berlubang, Martina dan lubang itu baru berguna setelah ada laki-laki yang mau masuk ke lubang itu”
“Tapi Martina tidak pernah melihat lubangnya, Paman”
“Nanti kamu juga merasakannya, tidak usah ingin melihatnya, Martina”
Daging yang kenyal itu (kepala kemaluan Paman Willy) mulai menggesek-menggesek bagian yang menonjol dari kemaluanku, oleh karenanya cairan yang keluar tadi mulai lagi mengalir di kemaluanku dan Aqu merasa lagi kegelian.
Karena masih perawan, maka lubang kemaluanku mungkin memang sulit ditemukan oleh Paman Willy. Sambil masih terus menggosok-menggosokkan kepala kemaluannya, Paman Willy memijit-memijit bibir kemaluanku dan merekahkannya pelan-pelan. Dengan tangan yang masih terikat, Aqu meronta-meronta.
“Paman, sakit Paman”
“Kamu mau kita cari lubang itu nggak?”
“Mau Paman”
Paman Willy mulai mengarahkan kemaluannya ke lubang kemaluanku. Pelan-Pelan dia menggesek-menggesek kan kepala kemaluan itu dan Aqu mulai merasakan adanya “lubang” di kemaluanku. Pelan-Pelan sambil digosok-digosokkan maju mundur, akhirnya clep, kemaluan Paman Willy masuk menembus selaput darAqu.
“Arhh Paman, sakit sekali,” darah segar pun mengalir di selangkanganku.
Dengan kemaluannya yang masih menancap, Paman Willy hanya tersenyum melihat reaksiku. Dia masih diam dan sambil pelan-pelan mengelus-mengelus bahuku dan buah dadaku. Setelah Aqu agak tenang, Paman Willy memutar-memutar pinggulnya sehingga Aqu merasa geli yang hebat di seluruh bagian rahimku dimana tertancap kemaluan Paman Willy. Daging yang kenyal itu melesak-melesak menyenggol-menyenggol semua bagian seakan-seakan mengocok-mengocok isi perutku. Pelan-Pelan Paman Willy mulai menggenjot kemaluannya dengan memaju mundurkan kemaluan nya dari lubang di kemaluanku.
“Kemaluan kamu sempit sekali Martina, dede Paman serasa dipijitin”
“Argh Paman, ah, geli ah..”
Paman Willy tidak hanya menggenjotku, tapi meremas-meremas putingku dengan liar, melumatnya dengan lidahnya mengecup-mengecupnya dan karena tanganku yang masih terikat di belakang punggung, Aqu pun hanya pasrah atas apa yang akan dilAqukan Paman Willy.
“Pamanm Martina kencing lagi Paman”
Dan ketika cairan kental itu keluar lagi dari kemaluanku, Paman Willy masih menancapkan kemaluannya di kemaluanku sambil menunggu sampai gerak badanku agak melemah.
Setelah itu, tubuhku diangkatnya dan kakiku dilingkarkan ke pinggangnya, dan dia memainkan Aqu seperti bonekanya, naik turun dan oleh karena gerakan itu juga, setiap kali tubuhku bergoyang-bergoyang, pentilku bergesekan dengan dadanya yang berbulu tipis dan bidang itu. Kegelian yang kurasakan makin hebat karena kemaluan Paman Willy semakin melesak masuk ke dalam lubangku itu.
Direbahkannya lagi tubuhku dan diganjalnya pinggangku dan pantatku dengan tumpukan bantal sehingga kemaluanku semakin terkuak lebar dan itu memudahkan Paman Willy untuk menancapkan kemaluannya di lubangku. Pada posisi itu pula akhirnya kemaluan Paman Willy terasa berdenyut-berdenyut dan akhirnya menyemprotkan cairan yang banyak bersamaan dengan orgasmku yang terakhir.
Setelah itu, Aqu pun terbaring lemas dan pelan-pelan Paman Willy melepaskan ikatan tanganku lalu memandikan Aqu dan mengeringkanku dengan penuh kelembutan.
“Sekarang Martina sudah menjadi perempuan ya, Paman?”
“Iya, lubangnya ada kan Martina?”
“Eh iya Paman”
“Tapi, sebagai perempuan kamu tidak boleh sembrono memasukkan semua kemaluan-kemaluan ke dalam lubang kemaluanmu itu, apalagi kalau sampai kemaluan-kemaluan itu menyemprotkan cairan seperti kemaluan Paman tadi”
“Kenapa Paman?”
“Karena cairan yang menyemprot itu berisi benih laki-laki, Martina. Kamu bisa saja hamil”
Karena wajahku pusat pasi mengetahui kenyataan itu, Paman Willy menenangkan Aqu dan memberiku pil anti hamil untuk mencegah Aqu hamil.
Malam itu, Aqu tertidur pulas setelah “kencing” untuk kesekian kalinya dari hasil memilin-memilin puttingku sendiri. Setelah kejadian itu, setiap kali ayah memarahiku, lubangku tidak pernah menganggur untuk diisi kemaluan oleh Paman Willy. Dan pengetahuanku tentang seks semakin bertambah, hingga tak sepantasnya diumurku yang masih belia sudah mengenal orgasme, sperma, ejAqulasi, dan istilah-istilah seks lainnya.

Cerita Seks Dewasa Ibu Dosen Mengajariku Ngentot

Unknown

Aku Diajari Ngentot Sama Ibu Dosen

                                               Gambar Ibu Dosen Mengajariku Ngentot

Aku Diajari Ngentot Sama Ibu Dosen

Namaqu Nova, sekarang aqu tinggal di Yogyakarta dengan fasilitas yang sangat baik sekali. Sejalan dengan waktu, kini aqu bisa kuliah di universitas keinginanku.  Kupikir aqu cukup beruntung bisa bekerja sambil kuliah sehingga aqu mempunyai penghasilan tinggi. Virni adalah dosen yang mengajar mengajar mata kuliah bahasa inggris.

Berawal dari reuni SMA-ku di Jakarta. Setelah itu aqu bertemu dengan dosen bahasa inggrisku, kita berbicara dengan akrabnya. Ternyata Ibu Virni masih segar bugar dan amat menggairahkan. Penampilannya amat menakjubkan, memakai rok mini yang ketat, kaos top tank sehingga lekuk tubuhnya nampak begitu jelas.

Jelas saja dia masih muda sebab sewaktu aqu SMA dulu dia adalah guru termuda yang mengajar di sekolah kita. Sekolahku itu cuma terdiri dari dua kelas, kebanyakan siswanya adalah wanita. Cukup lama aqu berbicara dengan Ibu Virni, kita rupanya tidak sadar waktu berjalan dengan cepat sehingga para undangan harus pulang. Lalu kita pun berjalan munuju ke pintu gerbang sambil menyusuri ruang kelas tempatku belajar waktu SMA dulu.
Tiba-tiba Ibu Virni teringat bahwa tasnya tertinggal di dalam kelas sehinga kita terpaksa kembali ke kelas. Waktu itu kira-kira hampir jam dua belas malam, tinggal kita berdua. Lampu-lampu di tengah lapangan saja yang tersisa. Sesampainya di kelas, Ibu Virni pun mengambil tasnya kemudian aqu teringat akan masa lalu bagaimana rasanya di kelas bersama dengan kawan-kawan. Lamunanku buyar ketika Ibu Virni memanggilku.
“Kenapa Nova”
“Ah.. tidak apa-apa”, jawabku. (sebetulnya suasana hening dan amat merinding itu membuat gairahku bergejolak apalagi ada Ibu Virni di sisiku, membuat jantungku selalu berdebar-debar).
“Ayo Nova kita pulang, nanti Ibu kehabisan angkutan”, kata Ibu Virni.
“Sebaiknya Ibu saya antar saja dengan mobil saya”, jawabku dengan ragu-ragu.
“Terima kasih Nova”.
Tanpa sengaja aqu mengutarakan isi hatiku kepada Ibu Virni bahwa aqu suka kepadanya,
“Oh my God what i’m doing”, dalam hatiku. Ternyata keadaan berkata lain, Ibu Virni terdiam saja dan langsung keluar dari ruang kelas. Aqu panik dan berusaha minta maaf. Ibu Virni ternyata sudah cerai dengan suaminya yang bule itu, katanya suaminya pulang ke negaranya. Aqu tertegun dengan pernyataan Ibu Virni. Kita berhenti sejenak di depan kantornya lalu Ibu Virni mengeluarkan kunci dan masuk ke kantornya, kupikir untuk apa masuk ke dalam kantornya malam-malam begini. Aqu semakin penasaran lalu masuk dan bermaksud mengajaknya pulang tapi Ibu Virni menolak. Aqu merasa tidak enak lalu menunggunya, kurangkul pundak Ibu Virni, dengan cepat Ibu Virni hendak menolak tetapi ada kejadian yang tak terduga, Ibu Virni menciumku dan aqu pun membalasnya.
Ohh.., alangkah senangnya aqu ini, lalu dengan cepat aqu menciumnya dengan segala kegairahanku yang terpendam. Ternyata Ibu Virni tak mau kalah, ia menciumku dengan gairah yang sangat besar mengharapkan kehangatan dari seorang pria. Dengan sengaja aqu menyusuri dadanya yang besar, Ibu Virni terengah sehingga ciuman kita bertambah panas kemudian terjadi pergumulan yang sangat seru. Ibu Virni memainkan tangannya ke arah gagang kemaluanku sehingga aqu sangat terangsang. Lalu aqu meminta Ibu Virni membuka pakaiannya, satu persatu kancing pakaiannya dibukanya dengan lembut, kutatap dengan penuh gairah. Ternyata dugaanku salah, dadanya yang kusangka kecil ternyata amat besar dan indah, BH-nya berwarna hitam berenda yang modelnya amat seksi.

Lantaran tak sabar jadi kucium lehernya serta saat ini Ibu Virni 1/2 telanjang, aqu tidak ingin segera menelanjanginya, hingga perlahan kunikmati keindahan badannya. Aqu juga buka baju hingga badanku yang tegap serta atletis menghidupkan gairah Ibu Virni, 
“Nova Ibu ingin bercinta denganmu saat ini.., Nova, tutup pintunya dahulu dong”, bisiknya dengan nada agak bergetar, mungkin saja menahan birahinya yang juga mulai naik 
Tanpa ada diminta 2 x, secepat kilat aqu selekasnya tutup pintu depan. Pasti supaya kondisi aman serta teratasi. Kemudian aqu kembali pada Ibu Virni. Saat ini aqu jongkok di depannya. Mengungkap rok mininya serta merenggangkan ke-2 kakinya. Wuih, begitu mulus ke-2 pahanya. Pangkalnya terlihat menggunduk dibungkus celana dalam warna hitam yang sangat minim. Sembari mencium pahanya tanganku menelusup di pangkal pahanya, meremas-remas lubang senggamanya serta klitorisnya yang juga besar. Lidahku semakin naik ke atas. Ibu Virni menggelinjang kegelian sembari mendesah halus. Pada akhirnya jilatanku hingga di pangkal pahanya. 
“Mau apa anda sshh… sshh”, tanyanya lirih sembari memegangi kapalaqu erat-erat. 
“Ooo… oh.. oh.. ”, desah Ibu Virni keenakan saat lidahku mulai bermain-main di gundukan lubang kenikmatannya. Terlihat dia keenakan walau masihlah dibatasi celana dalam. 
Serangan juga kutingkatkan. Celananya kulepaskan. Saat ini piranti rahasia kepunyaannya ada di depan mataqu. Kemerahan dengan klitoris yang besar sesuai sama sangkaanku. Di sekitarnya ditumbuhi rambut yg tidak demikian lebat. Lidahku lalu bermain di bibir kemaluannya. Pelan-pelan mulai masuk kedalam dengan beberapa gerakan melingkar yang bikin Ibu Virni semakin keenakan, hingga mesti mengangkat-angkat pinggulnya. 
“Aahh… Anda pandai sekali. Belajar dari tempat mana hh…” 
Tanpa ada sungkan-sungkan Ibu Virni mencium bibirku. Lantas tangannya menyentuh celanaqu yang menonjol akibat gagang kemaluanku yang ereksi optimal, meremas-remasnya sebagian waktu. Begitu lembut ciumannya, walau masihlah polos. Aqu selekasnya menjulurkan lidahku, memainkan di rongga mulutnya. Lidahnya kubelit hingga dia seperti akan tersendak. Awal mulanya Ibu Virni seperti bakal memberontak serta melepas diri, namun tidak kubiarkan. Mulutku seperti menempel di mulutnya. 
“Uh anda pengalaman sekali ya. Sama siapa? Pacarmu? ”, tanyanya di antara kecipak ciuman yang membara serta mulai liar. Aqu tidak menjawab. Tanganku mulai mempermainkan ke-2 buah dadanya yang terlihat menggairahkan itu. Agar tak merepotkanku, BH-nya kulepas. Saat ini dia telanjang dada. Tidak senang, selekasnya kupelorotkan rok mininya. Nah saat ini dia telanjang bulat. Begitu bagus badannya. Padat, kencang serta putih mulus. 
“Nggak adil. Anda harus juga telanjang.. ” Ibu Virni juga menanggalkan kaos, celanaqu, serta paling akhir celana dalamku. Gagang kemaluanku yang tegak penuh selekasnya diremas-remasnya. Tanpa ada dikomando kita rebah diatas ranjang, berguling-guling, sama-sama menindih. Aqu menunduk ke selangkangannya, mencari pangkal kesenangan kepunyaannya. Tanpa ada ampun lagi mulut serta lidahku menyerang daerah itu dengan liar. Ibu Virni mulai keluarkan desahan-desahan tertahan menahan nikmat. Nyaris lima menit kita nikmati permainan itu. Setelah itu aqu merangkak naik. Menyorongkan gagang kemaluanku ke mulutnya. 
“Gantian dong.. ” Tanpa ada menanti jawabannya selekasnya kumasukkan gagang kemaluanku ke mulutnya yang mungil. Awal mulanya agak kesusahan, namun lama-lama dia dapat beradaptasi hingga tidak lama gagang kemaluanku masuk ke rongga mulutnya. 
“Justru di situ enaknya.., Sampai kini sama suami main seksnya bagaimana? ”, tanyaqu sembari menciumi buah dadanya. Ibu Virni tidak menjawab. Dia jadi mencium bibirku dengan penuh gairah. Tanganku juga dengan cara bertukaran memainkan ke-2 buah dadanya yang kenyal serta selangkangannya yang mulai basah. Aqu tahu, wanita itu telah kepengin disetubuhi. Tetapi aqu berniat membiarkan dia jadi penasaran sendiri. 
Namun lama-lama aqu tak tahan juga, gagang kemaluanku juga telah menginginkan selekasnya menggenjot lubang kenikmatannya. Pelan-pelan aqu mengarahkan kemaluanku yang kaqu serta keras itu ke arah selangkangannya. Saat mulai menembus lubang kenikmatannya, kurasakan badan Ibu Virni agak gemetar. 
“Ohh…”, desahnya saat sedikit untuk sedikit gagang kemaluanku masuk ke lubang kenikmatannya. Sesudah semua kemaluanku masuk, aqu selekasnya bergoyang naik turun diatas badannya. Aqu semakin terangsang oleh desahan-desahan kecil, lenguhan dan ke-2 buah dadanya yang turut bergoyang-goyang. 
Tiga menit sesudah kugenjot, Ibu Virni menjepitkan ke-2 kakinya ke pinggangku. Pinggulnya dinaikkan. Nampaknya dia bakal orgasme. Genjotan gagang kemaluanku kutingkatkan. 
“Ooo… ahh… hmm… ssshh…”, desahnya dengan badan menggelinjang menahan kesenangan puncak yang diperolehnya. Kubiarkan dia nikmati orgasmenya sebagian waktu. Kuciumi pipi, dahi, serta semua berwajah yang berkeringat. 
“Sekarang Ibu Virni berbalik. Menungging diatas meja.., saat ini kita main dong diatas meja ok! ” Aqu mengatur badannya serta Ibu Virni menurut. Dia saat ini bertumpu pada siku serta kakinya.

“Gaya apa lagi ini?”, tanyanya.
Setelah siap aqu pun mulai menggenjot dan menggoyang tubuhnya dari belakang. Ibu Virni kembali menjerit dan mendesah merasakan kenikmatan yang tiada taranya, yang mungkin selama ini belum pernah dia dapatkan dari suaminya. Setelah dia orgasme sampai dua kali, kita istirahat.
“Lelah?”, tanyaqu.
“Kamu ini aneh-aneh saja. Sampai mau remuk tulang-tulangku”.
“Tapi kan nikmat Bu..”, jawabku sambil kembali meremas buah dadanya yang menggemaskan.
“Ya deh kalau lelah. Tapi tolong sekali lagi, aqu pengin masuk agar spermaqu keluar. Nih sudah nggak tahan lagi gagang kemaluanku. Sekarang Ibu Virni yang di atas”, kataqu sambil mengatur posisinya.

Aqu terletang dan dia menduduki pinggangku. Tangannya kubimbing agar memegang gagang kemaluanku masuk ke selangkangannya. Setelah masuk tubuhnya kunaik-turunkan seirama genjotanku dari bawah. Ibu Virni tersentak-sentak mengikuti irama goyanganku yang makin lama kian cepat. Buah dadanya yang ikut bergoyang-goyang menambah gairah nafsuku. Apalagi diiringi dengan lenguhan dan desahannya saat menjelang orgasme. Ketika dia mencapai orgasme aqu belum apa-apa.
Posisinya segera kuubah ke gaya konvensional. Ibu Virni kurebahkan dan aqu menembaknya dari atas. Mendekati orgasme aqu meningkatkan frekuensi dan kecepatan genjotan gagang kemaluanku.
“Oh Ibu Virni.., aqu mau keluar nih ahh..” Tak lama kemudian spermaqu muncrat di dalam lubang kenikmatannya. Ibu Virni kemudian menyusul mencapai orgasme. Kita berpelukan erat. Kurasakan lubang kenikmatannya begitu hangat menjepit gagang kemaluanku. Lima menit lebih kita dalam posisi rileks seperti itu.
Kita berpelukan, berciuman, dan saling meremas lagi. Seperti tak puas-puas merasakan kenikmatan beruntun yang baru saja kita rasakan. Setelah itu kita bangun di pagi hari, kita pergi mencari sarapan dan bercakap-cakap kembali. Ibu Virni harus pergi mengajar hari itu dan sorenya baru bisa kujemput.
Sore telah tiba, Ibu Virni kujemput dengan mobilku. Kita makan di mall dan kita pun beranjak pulang menuju tempat parkir. Di tempat parkir itulah kita beraksi kembali, aqu mulai menciumi lehernya. Ibu Virni mendongakkan kepala sambil memejamkan mata, dan tanganku pun mulai meremas kedua buah dadanya. Nafas Ibu Virni makin terengah, dan tanganku pun masuk di antara kedua pahanya. Celana dalamnya sudah basah, dan jariku mengelus belahan yang membayang.
“Uuuhh.., mmmhh..”, Ibu Virni menggelinjang, tapi gairahku sudah sampai ke ubun-ubun dan aqu pun membuka dengan paksa pakaian dan rok mininya.
Aaahh..! Ibu Virni dengan posisi yang menantang di jok belakang dengan memakai BH merah dan CD merah. Aqu segera mencium puting susunya yang besar dan masih terbungkus dengan BH-nya yang seksi, berganti-ganti kiri dan kanan. Tangan Ibu Virni mengelus bagian belakang kepalaqu dan erangannya yang tersendat membuatku makin tidak sabar. Aqu menarik lepas celana dalamnya, dan nampaklah bukit kemaluannya. Aqupun segera membenamkan kepalaqu ke tengah ke dua pahanya. “Ehhh…, mmmhh..”. Tangan Ibu Virni meremas jok mobilku dan pinggulnya bergetar ketika bibir kemaluannya kucumbui. Sesekali lidahku berpindah ke perutnya dan menjilatinya dengan perlahan.
“Ooohh.., aduuuhh..”. Ibu Virni mengangkat punggungnya ketika lidahku menyelinap di antara belahan kemaluannya yang masih begitu rapat. Lidahku bergerak dari atas ke bawah dan bibir kemaluannya mulai membuka. Sesekali lidahku membelai klitorisnya yang membuat tubuh Ibu Virni terlonjak dan nafas Ibu Virni seakan tersendak. Tanganku naik ke dadanya dan meremas kedua bukit dadanya. Putingnya membesar dan mengeras. Ketika aqu berhenti menjilat dan mengulum, Ibu Virni tergeletak terengah-engah, matanya terpejam. Tergesa aqu membuka semua pakaianku, dan kemaluanku yang tegak teracung ke langit-langit, kubelai-belaikan di pipi Ibu Virni.
“Mmmhh…, mmmhh.., ooohhm..”. Ketika Ibu Virni membuka bibirnya, kujejalkan kepala kemaluanku, kini iapun mulai menyedot. Tanganku bergantian meremas dadanya dan membelai kemaluannya.
“Oouuuh Ibu Virni.., enaaaak.., teruuuss…”, erangku.
Ibu Virni terus mengisap gagang kemaluanku sambil tangannya mengusap lubang kenikmatannya yang juga telah banjir karena terangsang menyaksikan gagang kemaluanku yang begitu besar dan perkasa baginya. Hampir 20 menit dia menghisap gagang kemaluanku dan tak lama terasa sekali sesuatu di dalamnya ingin meloncat ke luar.
“Ibu Virni.., ooohh.., enaaak.., teruuus”, teriakku. Dia mengerti kalau aqu mau keluar, maka dia memperkuat hisapannya dan sambil menekan lubang kenikmatannya, aqu lihat dia mengejang dan matanya terpejam, lalu..,
“Creet.., suuurr.., ssuuur..”
“Oughh.., Nova.., nikmat..”, erangnya tertahan karena mulutnya tersumpal oleh gagang kemaluanku. Dan karena hisapannya terlalu kuat akhirnya aqu juga tidak kuat menahan ledakan dan sambil kutahan kepalanya, kusemburkan maniku ke dalam mulutnya,
“Crooot.., croott.., crooot..”, banyak sekali maniku yang tumpah di dalam mulutnya.
“Aaahkk.., ooough”, ujarku puas. Aqu masih belum merasa lemas dan masih mampu lagi, aqupun naik ke atas tubuh Ibu Virni dan bibirku melumat bibirnya. Aroma kemaluanku ada di mulut Ibu Virni dan aroma kemaluan Ibu Virni di mulutku, bertukar saat lidah kita saling membelit. Dengan tangan, kugesek-gesekkan kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Ibu Virni, dan sebentar kemudian kurasakan tangan Ibu Virni menekan pantatku dari belakang.
“Ohm, masuk.., augh.., masukin”
Perlahan kemaluanku mulai menyeruak masuk ke lubang kemaluannya dan Ibu Virni semakin mendesah-desah. Segera saja kepala kemaluanku terasa tertahan oleh sesuatu yang kenyal. Dengan satu hentakan, tembuslah halangan itu. Ibu Virni memekik kecil. Aqu menekan lebih dalam lagi dan mulutnya mulai menceracau,
“Aduhhh.., ssshh.., iya.., terus.., mmmhh.., aduhhh.., enak.., Nova”
Aqu merangkulkan kedua lenganku ke punggung Ibu Virni, lalu membalikkan kedua tubuh kita sehingga Ibu Virni sekarang duduk di atas pinggulku. Nampak kemaluanku menancap hingga pangkal di kemaluannya. Tanpa perlu diajari, Ibu Virni segera menggerakkan pinggulnya, sementara jari-jariku bergantian meremas dan menggosok buah dadanya, klitoris dan pinggulnya, dan kitapun berlomba mencapai puncak.
Lewat beberapa waktu, gerakan pinggul Ibu Virni makin menggila dan iapun membungkukkan tubuhnya dengan bibir kita saling melumat. Tangannya menjambak rambutku, dan akhirnya pinggulnya berhenti menyentak. Terasa cairan hangat membalur seluruh gagang kemaluanku. Setelah tubuh Ibu Virni melemas, aqu mendorongnya hingga telentang, dan sambil menindihnya, aqu mengejar puncak orgasmeku sendiri. Ketika aqu mencapai orgasme, Ibu Virni tentu merasakan siraman air maniku di lubang kenikmatannya, dan iapun mengeluh lemas dan merasakan orgasmenya yang kedua. Sekian lama kita diam terengah-engah, dan tubuh kita yang basah kuyup dengan keringat masih saling bergerak bergesekan, merasakan sisa-sisa kenikmatan orgasme.

Cerita Seks Dewasa Selingkuh Dengan Istri Pegawaiku

Unknown

Bercinta Dengan Istri Pegawaiku

                                                          Gambar Istri Pegawaiku

Bercinta Dengan Istri Pegawaiku

Hari itu salah seorang direktur perusahaan, Pak Martin, sedang mengadakan resepsi pernikahan anaknya di sebuah hotel bintang lima di kawasan Senayan. Tentu saja aqupun diundang, dan malam itu aqupun meluncur menuju tempat resepsi diadakan.

Aqu pergi bersama dengan Johnson, kawanku waktu kuHanah di Amerika dahulu. Sesampainya di hotel Terlihat para tamu sebagian besar membawa pasangannya sendiri-sendiri. Iri juga melihat mereka dikawani oleh pasangan dan anak mereka, sedangkan aqu, karena masih bujangan, dikawani oleh si bule ini.

“Selamat malam Pak..” sapa seseorang agak mengagetkanku. Aqu menoleh, ternyata Hana sekretarisku yang menyapaqu. Dia datang bersama pacarnya. Terlihat sexy dan cantik sekali dia malam itu, disamping juga anggun. Berbeda sekali jika dibandingkan saat aqu sedang menikmati tubuhnya,.. Liar dan nakal. Dengan gaun malam yang berdada rendah, belahan payudaranya yang besar Terlihat menggoda.
“Malam Hana” balasku. Mata Johnson tak henti-hentinya menatap Hana, dengan pandangan kagum. Hana hanya tersenyum manis saja dilihat dengan penuh gairah seperti itu. Terlihat dia menjaga tingkah laqunya, karena pacarnya berada di sampingnya.
Kitapun lalu berbincang-bincang sekedarnya. Lalu aqupun permisi hendak menyapa para tamu lain yang datang, terutama para klienku.
“Malam Pak Albert..” seorang wanita cantik tiba-tiba menyapaqu. Dia adalah Vesya, pasangan dari Pak Burhan, manajer keuangan di kantorku. Mereka baru menikah sekitar tiga bulan yang lalu.
“Oh Vesya.. Malam” kataqu
“Pak Burhan dimana?”
“Sedang ke restroom.. Sendirian aja Pak?” tanyanya.
“Sama kawan” jawabku sambil memandangi dia yang malam itu Terlihat cantik dengan gaun malamnya dengan anggun. Belahan gaunnya yang tinggi memamerkan pahanya yang putih menggoda. Dadanya walaupun tak sebesar Hana, Terlihat membusung menantang.
“Makanya, cari pasangan dong Pak.. Biar ada yang nemenin” katanya sambil tersenyum manis.
“Belom ada yang mau nih”
“Ahh.. Bapak bisa saja.. Pasti banyak banget cewek yang mau sama bapak.. Kalau belom menikah saya juga mau lho..” jawabnya menggoda.
Memang Vesya ini raVesya punya perasaan tertentu padaqu. Terlihat dari gaya bicaranya dan gaya dia memandangku.
“Oh.. Kalau saya sih mau lho sama kamu biarpun kamu sudah menikah” kataqu sambil menatap wajahnya yang cantik.
“Ah.. Pak Albert.. Bisa aja..” jawabnya sambil tersipu malu.
“Bener lho mau aqu buktiin?” godaqu
“Janganlah Pak.. Nanti kalau ketahuan pasanganku bisa gawat” jawabnya perlahan sambil tersenyum.
“Kalau nggak ketahuan gimana.. Nggak apa khan?” godaku lagi.
Vesya Terlihat tersipu malu. Wah.. Aqu mendapat angin nih.. Memang aqu sejak berkenalan dengan Vesya beberapa bulan yang lalu sudah membayangkan nikmatnya menyetubuhi wanita ini. Dengan kulit putih, khas orang Bandung, rambut sedikit ikal sebahu, bibir tipis, dan masih muda lagi. Dia baru berumur 24 tahunan.
“Gimana nih setelah nikah.. Enak nggak? Pasti masih hot y.
“Godaqu lagi.
“Biasa aja kok Pak.. Kadang enak.. Kadang nggak.. Tergantung moodnya” jawabnya lirih.

Dari jawabannya aqu miliki sangkaan kalau Pak Burhan ini tak demikian memuaskannya diatas tempat tidur. Mungkin saja lantaran umur Pak Burhan yang telah berusia dibanding dengan dianya yang masihlah penuh gairah keinginan seksual wanita muda. Tentu tidak sering sekali dia alami klimaks. Uh.. Kasihan sekali fikirku. 
Tidak lama Pak Burhanpun datang dari terlalu jauh. 
“Wah.. Pak Burhan.. Miliki pasangan cantik begini kok ditinggal sendiri” kataqu menggoda. 
Vesya Tampak suka aqu puji seperti itu. Tampak dari tatapan matanya yang haus bakal kehangatan lelaki tulen seperti aqu ini. 
“Iya Pak.. Habis dari belakang nih” jawabnya. Tatapan matanya Tampak berprasangka buruk lihat aqu tengah mengobrol dengan pasangannya yang jelita itu. Mungkin saja dia telah dengar berita bakal ke-playboyanku di kantor. 
“Ok saya tinggal dahulu ya Pak Burhan.. Vesya” kataqu lagi sembari ngeloyor pergi menuju tempat hidangan. 
Aqupun mengambil hidangan serta menyantapnya nikmat. Maklum perutku telah keroncongan, sangat banyak basa-basi dengan beberapa tamu tamu tadi. Kulihat si Johnson masihlah bercakap dengan Hana serta pacarnya. 
Saat aqu mencari Vesya dengan pandanganku, dia juga tengah mengambil pandang padaqu sembari tersenyum. Pak Burhan Tampak tengah mengobrol dengan tamu yang lain. Memanglah payah juga ayah yang satu ini, tak dapat membahagiakan pasangannya. 
Vesya lalu jalan mengambil hidangan, serta aqupun pura-pura memberi hidanganku. 
“Ves.. Kita terusin ngobrolnya diluar yuk” ajakku berbisik padanya 
“Nanti saya di cari pasangan saya bagaimana Pak.. ” 
“Bilang saja anda sakit perut.. Butuh ke toilet. Aqu tunggulah diluar ya”. 
“Kataqu sembari menahan gairah lihat lehernya yang putih tahap, serta lengannya yang berbulu halus 
Tidak lama Vesyapun keluar ruang resepsi menyusulku. Kitapun pergi ke lantai diatas, serta menuju toilet. Aqu merencanakan untuk bermesraan dengan dia di Vesa. Kebetulan aqu tahu suaVesanya tentu sepi. Sebelom hingga di toilet, ada satu ruang kosong, satu meeting room, yang terbuka. Wah kebetulan nih, fikirku. Kutarik Vesya kedalam serta kututup pintunya. 
Tanpa ada basa-basi lagi, aqu cium bibirnya yang indah itu. Vesyapun membalas bergairah. Tangankupun bergerak merambahi payudaranya, sedang tanganku yang satu mencari kaitan retsleting di belakang badannya. Kulepas gaunnya beberapa hingga Tampak payudaranya yang ranum cuma tertutup BH mungil berwarna krem. Kuciumi leher Vesya yang tahap itu, serta kusibakkan cup BHnya kebawah hingga payudaranya mencuat keluar. Segera kujilati dengan rakus payudara itu, aqu kenyot serta aqu permainkan putingnya yang telah mengeras dengan lidahku. 
“Oh.. Pak Albertt.. ” desah Vesya sembari menggeliat. 
“Enak Ves.. ” 
“Enak Pak.. Selalu Pak.. ” desahnya lirih. 
Tangankupun meraba pahanya yang mulus, serta hingga pada celana dalamnya. Tampak Vesya telah demikian bergairah hingga celananya telah lembab oleh cairan kewanitaannya. 
Vesyapun lalu tidak sabar serta buka kancing baju batikku. Di cium serta dijilatinya putingku.. Lantas selalu ke bawah ke perutku. Lalu dia berlutut serta dibukanya retsleting celanaqu, serta tangannya yang lentik berbulu halus itu merogoh kedalam keluarkan kemaluanku dari celana dalamnya. Memanglah kita berniat tidak ingin telanjang bulat lantaran keadaan yg tidak sangat mungkin. 
“Ohh.. Besar sekali Pak Albert.. Vesya sukai.. ” tuturnya sembari kagum pada kemaluanku dari dekat. 
“Memang miliki pasanganmu seberapa? ” tanyaqu tersenyum menggoda. 
“Mungkin hanya separuhnya Pak Albert.. Oh.. Vesya sukai.. ” tuturnya tidak meneruskan lagi jawabannya lantaran mulutnya yang mungil itu telah mengulum kemaluanku. 
“Enak Pak? ” tanyanya sembari melirik nakal kepadaqu. Tangannya repot meremas-remas buah kemaluanku sesaat lidahnya menjilati batang kemaluanku. 
“Enak sayang.. Mari isap lagi” jawabku menahan rasa nikmat yang menyebar hebat.  
Dikulumnya lagi kemaluanku, sesaat ke-2 tangannya meremas-remas bokongku. Vesgat sexy sekali lihat panorama itu. Seseorang wanita cantik yang telah berpasangan, bertubuh padat, tengah berlutut didepanku dengan pipi yang menggelembung mengkenyot kemaluanku. Terutama saat kemaluanku keluar dari mulutnya, tanpa ada memakai tangannya serta cuma menggerakkan kepalanya ikuti gerak kemaluanku, Vesya mengulumnya kembali. 
“Hm.. Kemaluan ayah enak banget.. Vesya sukai kemaluan yang besar begini” desahnya. 
Mendadak terdengar bunyi handphone. Vesyapun hentikan isapannya. 
“Iya Mas.. Ada apa? ” jawabnya. 
“Lho Mas telah pikun ya.. Khan Vesya tadi usah katakan.. Vesya ingin ke toilet.. Sakit perut.. Bagaimana sih” Vesya bicara pada pasangannya yang tidak sabar menanti. Sesaat tangan Vesya yang satu tetaplah meraba serta mengocok kemaluan ataVes pasangannya ini.

“Iya Mas.. Mungkin salah makan nih.. Sebentar lagi Mas.. Sabar ya..”
Kemudian Terlihat pasangannya berbicara agak panjang di telpon, sehingga waktu tersebut digunakan Vesya untuk kembali mengulum kemaluanku sementara tangannya masih memegang handphonenya.
“Iya Mas.. Vesya juga cinta sama Mas..” katanya sambil menutup telponnya.
“Pasanganku sudah nunggu. Tapi biarin aja deh dia nunggu agak lama, soalnya Vesya pengin puas dulu”. Sambil tersenyum nakal Vesya kembali menjilati kemaluanku.
Aqu sudah ingin menikmati kehangatan tubuh wanita pasangan bawahanku ini. Kutarik tangannya agar berdiri, dan aqupun tiduran di atas meja meeting di ruangan itu.
Tanpa perlu dikomando lagi Vesya menaiki tubuhku dan menyibak gaun dan celana dalamnya sehingga kemaluannya tepat berada di atas kemaluanku yang sudah menjulang menahan gairah.
Vesya kemudian menurunkan tubuhnya sehingga kemaluankupun menerobos Lubang kemaluannya yang masih sempit itu.
“Oh.. My god..” jeritnya tertahan.
Kupegang pinggangnya dan kemudian aqu naik-turunkan sehingga kemaluanku maju mundur menjelajahi Lubang nikmat pasangan cantik Pak Burhan ini. Kemudian tanganku bergerak meremas payudaranya yang bergerak saat Vesya bergerak naik turun di atas tubuhku. Sesekali kutarik badannya sehingga payudaranya bergerak ke depan wajahku untuk kemudian aqu kenyot dengan gemas.
“Ohh Pak Albertt.. Bapak memang jantan..” desahnya
“Ayo Pak.. Puaskan Vesya Pak..” Vesya berkata sambil menggerak-gerakkan badannya maju mundur di atas kemaluanku. Setelah itu dia kembali menggerakkan badannya naik turun mengejar kepuaVes bercinta yang tak didapatkan dari pasangannya.
Setelah beberapa menit aqu turunkan tubuhnya dan aqu suruh dia menungging sambil berpegangan pada tepian meja. Aqu sibakkan gaunnya, dan Terlihat bokongnya yang putih menggairahkan hanya tertutup oleh celana dalam yang sudah tersibak kesamping. Kuarahkan kemaluanku ke kemaluannya, dan langsung kugenjot dia, sambil tanganku meremas-remas rambutnya yang ikal itu.

“Kamu suka Ves?” kataqu sambil menarik rambutnya ke belakang.
“Suka Pak.. Albert.. Suka..”
“Pasanganmu memang nggak bisa ya”
“Dia lemah Pak.. Oh.. God.. Enak Pak.. Ohh”
“Ayo bilang.. Kamu lebih suka ngentotin pasanganmu atau aqu” tanyaqu sambil mencium wajahnya yang mendongak ke belakang karena rambutnya aqu tarik.
“Vesya lebih suka dientotin Pak Albert.. Pak Albert jantan.. Pasanganku lemah.. Ohh.. God..” jawabnya.
“Kamu suka kemaluan besar ya?” tanyaqu lagi
“Iya Pak.. Oh.. Terus Pak.. Punya pasanganku kecil Pak.. Oh yeah.. Pak Albert besar.. Ohh yeah oh.. God. Pasanganku jelek.. Pak Albert ganteng. Oh god. Enakhh..” Vesya mulai meracau kenikmatan.
“Oh.. Pak.. Vesya hampir sampai Pak.. Ayo Pak puaskan Vesya Pak..” jeritnya.
“Tentu sayang.. Aqu bukan pasanganmu yang lemah itu..” jawabku sambil terus mengenjot dia dari belakang. Tangankupun sibuk meremas-remas payudaranya yang bergerak menggemaskan.
“Ahh.. Vesya sampai Pak..” Vesya melenguh ketika gelombang klimaks menerpanya.
Aqupun hampir sampai. Kemaluanku sudah berdenyut-denyut ingin mengeluarkan laharnya. Kutarik tubuh Vesya hingga dia kembali berlutut di depanku. Kukocok-kocok kemaluanku dan tak lama tersemburlah spermaqu ke wajahnya yang cantik. Kuoles-oleskan sisa-sisa cairan dari kemaluanku ke seluruh wajahnya. Kemudian Vesyapun mengulum dan menjilati kemaluanku hingga bersih.
“Terimakasih Pak Albert.. Vesya puas sekali” katanya saat dia membersihkan wajahnya dengan tisu.
“Sama-sama Vesya. Saya hanya berniat membantu kok” jawabku sambil bergegas membetulkan pakaianku kembali.
“Ngomong-ngomong, kamu pintar sekali blowjob ya? Sering latihan?” tanyaqu.
“Vesya sering lihat di VCD aja Pak. Kalau sama pasangan sih jarang Vesya mau begitu. Habis nggak gairah sih lihatnya”
Wah.. Kasihan juga Pak Burhan, pikirku geli. Malah aqu yang dapat menikmati enaknya dioral oleh pasangannya yang cantik jelita itu.
“Kapan kita bisa melaqukan lagi Pak” kata Vesya mengharap ketika kita keluar ruangan meeting itu.
“Gimana kalau minggu depan aqu suruh pasanganmu ke luar kota jadi kita bisa bebas bersama?”
“Hihihi.. Ide bagus tuh Pak.. Janji ya” Vesya Terlihat gembira mendengarnya.
Kitapun kembali ke ruangan resepsi. Vesya aqu suruh turun terlebih dahulu, baru aqu menyusul beberapa menit kemudian. Sesampai di ruang resepsi Terlihat Johnson sedang mencari aqu.

“Hey man.. Where have you been? I’ve been looking for you”
“Sorry man.., I had to go to the restroom. I had stomachache” jawabku.
Tak lama Vesya datang bersama Pak Burhan pasangannya.
“Pak Albert, kita mau pamit dahulu.. Ini Vesya nggak enak badan.. Sakit perut katanya”
“Oh ya Pak Burhan, silakan saja. Pasangan bapak cantik harus benar-benar dirawat lho..”
Vesya Terlihat tersenyum mendengar perkataanku itu, sementara wajah Pak Burhan menunjukkan rasa curiga. He.. He.. Kasihan, pikirku. Mungkin dia akan syok berat bila tahu aqu baru saja menyetubuhi pasangannya yang cantik itu.
Tak lama aqu dan Johnson pun pulang. Sebelom pulang aqu berpapasan dengan Hana, sekretarisku. Aqu suruh dia untuk mendaftarkan Pak Burhan untuk training di Singapore. Memang baru-baru ini aqu mendapat tawaran training ke Singapore dari salah satu perusahaan. Lebih baik Pak Burhan saja yang pergi, pikirku. Toh memang dia yang mengerjakan pekerjaan itu di kantor, sedangkan aqu hanya akan menolong pasangannya yang cantik mengarungi lautan birahi selama dia pergi nanti.
Tak sabar aqu menanti minggu depan datang. Nanti akan aqu ceritakan lagi pengalamanku bersama Vesya bila saatnya tiba. Dengan tidak adanya batas waktu karena terburu-buru, tentu aqu akan lebih bisa menikmati dirinya.

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib