Now you can Subscribe using RSS

Submit your Email

Rabu, 17 Agustus 2016

Kisah Nyata Yang Mengharukan Seorang Anak Terpaksa Mencopet Demi Ibuknya Yang sakit

Unknown

Mengharukan Seorang Anak Terpaksa Mencopet Demi Ibuknya Yang sakit

                                                              Gambar Kisah Nyata

Mengharukan Seorang Anak Terpaksa Mencopet Demi Ibuknya Yang sakit

Ini Cerita yang Mengharukan, cerita mengenai seseorang Anak yang Mencopet lantaran Ibunya yg tengah Sakit. Cerita mengenai pelajaran hidup, jangan sampai lihat satu masalah dari satu segi yang selanjutnya bakal bikin rangkuman yang tergesa-gesa. Dari tepi kaca nako diantara celah kain tirai, saya lihat anak muda itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berulang-kali lihat ke tempat tinggal saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya. 
Cerita Anak - yang Mengharukan 

Saya pernah lihat anak muda itu di jembatan penyeberangan, tak tahu satu minggu atau dua minggu waktu lalu. Saya pulang beli bumbu kue saat itu. Mendadak diatas jembatan penyeberangan, saya ada yang menabrak, saya nyaris jatuh. Si penabrak yg tidak lain yaitu anak muda yang gelisah serta mondar-mandir di depan tempat tinggal itu, mohon maaf serta bergegas mendahului saya. Saya kesal, terlebih demikian hingga dirumah saya ketahui dompet yang disimpan di kantong plastik, dikumpulkan dengan bumbu kue, sudah raib. 

Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud anak muda yang mungkin saja umurnya tidak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Lihat kelakuannya yang gelisah, bukankah dia miliki maksud jelek dengan keluarga saya? Ingin merampok? Tidakkah saat ini orang merampok tak akan mengetahui saat? Siang hari waktu beberapa orang lalu-lalang juga penodong dapat beraksi, seperti yang banyak dikabarkan koran. Atau dia miliki permasalahan dengan Adhi anak saya? 

Kenakalan remaja sekarang ini tak akan mudah. Tawuran sudah jadikan beberapa puluh remaja wafat. Saya berdoa mudah-mudahan lamunan itu salah semuanya. Namun mengingat momen jelek itu mungkin berlangsung, saya mengunci semua pintu serta jendela tempat tinggal. Dirumah ini, jam sepuluh pagi seperti ini, saya cuma seseorang diri. Kang Dwi, suami saya, ke kantor. Adhi sekolah, Anna yang sekolah sore pergi les Inggris, serta Bi Dian telah satu minggu tak masuk. 
Jadi bila lelaki yang senantiasa memerhatikan tempat tinggal saya itu menodong, saya dapat apa? Pintu pagar tempat tinggal memanglah terbuka. Siapapun dapat masuk. 

Namun kenapa anak muda itu tak juga masuk? Bukankah dia menanti hingga tak ada orang yang memergoki? Saya sedikit lega waktu anak muda itu berdiri di samping tiang telephone. Saya miliki fikiran lain. Mungkin saja dia tengah menanti seorang, pacarnya, rekannya, adiknya, atau siapapun yang janjian untuk berjumpa di tiang telephone itu. Saya memanglah tak harus berburuk kira seperti tadi. Namun dizaman ini, dengan beberapa momen jelek, tenggang rasa yang makin menghilang, bukankah rasa berprasangka buruk tambah baik dari pada lengah? 

Saya masihlah tak beranjak dari persembunyian, diantara kain tirai, di samping kaca nako. Saya masihlah kuatir lantaran anak muda itu sesekali masihlah lihat ke tempat tinggal. Apa tujuannya? Ah, tidakkah beberapa pertanyaan didunia ini yang tak ada jawabannya. 

Terlintas di fikiran saya untuk menelepon tetangga. Namun saya takut jadi ramai. Bisa-bisa masyarakat se-kompleks mendatangi anak muda itu. Iya bila anak itu di tanya-tanya dengan cara baik, cobalah bila belum apa-apa ada yang memukul. 

Mendadak anak muda itu membalikkan tubuh serta masuk ke halaman tempat tinggal. Debaran jantung saya mengencang kembali. Saya memanglah menderita penyakit jantung. Kemauan saya untuk menelepon tetangga telah bulat, namun kaki saya tak dapat mengambil langkah. Terlebih demikian anak muda itu mendekat, saya ingat, saya pernah memandangnya serta miliki pengalaman jelek dengannya. Namun anak muda itu tak lama di teras tempat tinggal. Dia cuma memasukkan suatu hal ke celah diatas pintu serta bergegas pergi. Saya masihlah belum dapat mengambil benda itu lantaran kaki saya masihlah lemas. 

Serta hari ini, anak muda yang gelisah serta si penabrak yang mencopet itu, kembalikan dompet saya melalui celah diatas pintu. Sesudah saya check, duit tiga ratus ribu lebih, cincin emas yang senantiasa saya taruh di dompet apabila melancong, serta surat-surat utama, tak ada yang menyusut. 

Lama saya lihat dompet itu serta melamun. Seperti dalam dongeng. Seseorang anak muda yang gelisah, yang siapa juga saya fikir bakal mencurigainya, dalam kondisi perekonomian yang morat-marit seperti ini, kembalikan duit yang sudah digenggamnya. Tidakkah itu ajaib, seperti dalam dongeng. Atau hidup ini memanglah tidak kian lebih satu dongengan? 

Berbarengan dompet yang dimasukkan ke kantong plastik hitam itu saya temukan surat yang dilipat tak rapi. Saya baca surat yang berhari-hari lalu tak terlepas dari fikiran serta hati saya itu. Berisi seperti ini : 

“Ibu yang baik…, maafkan saya sudah mengambil dompet Ibu. Semula saya ingin kembalikan dompet Ibu saja, namun saya tak miliki tempat untuk mengadu, jadi saya catat surat ini, mudah-mudahan Ibu ingin membacanya. 
Telah tiga bln. saya berhenti sekolah. Ayah saya di-PHK serta tak dapat membayar duit SPP yang berbulan-bulan telah nunggak, beli alat-alat sekolah serta berikan biaya. Lantaran kekuatan keluarga yang minim itu saya memikirkan tak apa-apa saya sekolah hingga kelas 2 STM saja. Namun yang bikin saya sakit hati, Ayah lalu kerap mabuk serta judi buntut yang beredar sembunyi-sembunyi itu. 
Adik saya yang tiga orang, semua keluar sekolah. Emak berjualan goreng-gorengan yang dititipkan di warung-warung. Adik-adik saya menolong mengantarkannya. Saya berjualan koran, membantu-bantu untuk beli beras. 
Saya sadar, bila kondisi seperti ini, saya mesti berjuang lebih keras. Saya ingin mengerjakannya. Dari pagi hingga malam saya bekerja. Tak saja jualan koran, saya juga menolong nyuci piring di warung nasi serta terkadang (sembari hiburan) saya ngamen. Namun duit yang pas-pasan itu (Emak kerap tidak berhasil belajar menabung serta saya maklum), masihlah disuruh Ayah untuk menempatkan judi kupon gelap. Bilangnya kelak juga ditukar bila angka tebakannya pas. Sampai kini belum pernah tebakan Ayah pas. Lagi juga Emak yang patuh melaksanakan ibadah itu akan tidak ingin terima duit dari hasil judi, saya meyakini itu. 
Saat Ayah makin kerap memohon duit pada Emak, terkadang sembari sebagian geram serta memukul, saya tak kuat untuk diam. Saya mengusir Ayah. Serta demikian Ayah memukul, saya membalasnya hingga Ayah terjatuh-jatuh. Emak memarahi saya sebagai anak laknat. Saya sakit hati. Saya bingung. Harus bagaimana saya? 
Waktu Emak sakit serta Ayah makin jadi dengan judi buntutnya, sakit hati saya makin menggumpal, namun saya tidak paham sakit hati oleh siapa. Cuma untuk membawa Emak ke dokter saja saya tak mampu. Ayah yang makin kerap tidur tak tahu dimana, tak peduli. Nyaris saya memukulnya lagi. 
Di jalan, waktu saya jualan koran, saya kerap terasa miliki dendam yang besar namun tidak paham dendam oleh siapa serta lantaran apa. Emak tak dapat ke dokter. Namun orang lain dapat dengan mobil elegan melenggang demikian saja di depan saya, sesekali bertelepon dengan handphone. Serta di seberang stopan itu, di warung jajan bertingkat, beberapa orang keluarkan beberapa ratus ribu untuk sekali makan. 
Jadi kemauan saya, Emak mesti ke dokter. Lantaran dari jualan koran kurang, saya berencana untuk mencopet. Berhari-hari saya ikuti bus kota, namun saya tak pernah berani menggerayangi saku orang. Keringat dingin jadi membasahi pakaian. Saya tidak berhasil jadi pencopet. 
Serta demikian saya lihat beberapa orang berbelanja di toko, saya lihat Ibu memasukkan dompet ke kantong plastik. Jadi saya ikuti Ibu. Diatas jembatan penyeberangan, saya pura-pura menabrak Ibu serta cepat mengambil dompet. Saya senang saat memperoleh duit 300 ribu lebih. 
Saya selekasnya mendatangi Emak serta mengajaknya ke dokter. Namun Ibu…, Emak jadi memandang saya tajam. Dia bertanya, dari tempat mana saya bisa duit. Saya sesungguhnya menginginkan menyampaikan kalau itu tabungan saya, atau meminjam dari rekan. Namun saya tak dapat berbohong. Saya menyampaikan sejujurnya, Emak mengalihkan pandangannya demikian saya usai menceritakan. 
Di pipi keriputnya mengalir butir-butir air. Emak menangis. Ibu…, tak pernah saya rasakan kebingungan seperti ini. Saya menginginkan berteriak. Sekeras-kerasnya. Sepuas-puasnya. Dengan duit 300 ribu lebih sesungguhnya saya dapat makan-makan, mabuk, hura-hura. Tak apa saya jadi pencuri. Tak peduli dengan Ibu, dengan beberapa orang yang kehilangan. Lantaran beberapa orang juga tak peduli pada saya. Namun saya tak dapat mengerjakannya. Saya mesti kembalikan dompet Ibu. Maaf. ”

Surat tanpa ada tanda tangan itu berkali-kali saya baca. Berhari-hari saya mencari-cari anak muda yang bingung serta gelisah itu. Di tiap-tiap stopan tempat beberapa puluh anak-anak berdagang serta mengamen. Dalam bus-bus kota. Di taman-taman. Namun anak muda itu tak pernah terlihat lagi. Siapa saja yang ada di stopan, tak mengetahui anak muda itu saat saya menanyakannya. 

Capek mencari, dibawah pohon rindang, saya membaca serta membaca lagi surat dari pencopet itu. Surat simpel itu bikin saya tak tenang. Ada suatu hal yang memengaruhi fikiran serta perasaan saya. Saya tak akan silau dengan semua kemewahan. Saat Kang Dwi membawa hadiah-hadiah istimewa sepulang kunjungannya ke luar kota, saya tak segembira umumnya. Saya jadi mengusulkan oleh-oleh yang umum saja. 

Kang Dwi serta ke-2 anak saya mungkin saja aneh dengan sikap saya belakangan ini. Namun ingin bagaimana, hati saya tak dapat lagi nikmati kemewahan. Tak ada lagi hasrat saya untuk makan di beberapa tempat yang harga nya beberapa ratus ribu sekali makan, bebrapa pakaian merk populer seharga jutaan, dsb. 

Saya menampiknya walau Kang Dwi katakan tak apa sekali-sekali. Waktu saya lagi th., Kang Dwi tawarkan untuk merayakan dimana saja. Namun saya menginginkan memasak dirumah, bikin makanan, dengan tangan saya sendiri. Serta siangnya, dengan dibantu Bibi Dian, lebih seratus bungkus nasi saya buat. Diantar Kang Dwi serta ke-2 anak saya, nasi-nasi bungkus diberikan pada beberapa pengemis, beberapa pedagang asongan serta pengamen yang banyak di tiap-tiap stopan. 

Di stopan paling akhir yang kami kunjungi, saya mengajak Kang Dwi serta ke-2 anak saya untuk makan berbarengan. Diam-diam air mata mengalir di mata saya. Anna hampiri saya serta katakan, “Mama, saya bangga jadi anak Ibu. ” Serta saya menginginkan jadi Ibu untuk beberapa ribu anak-anak yang lain.

Unknown / Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

1 komentar:

  1. Assalamualaikum Salam sejahtera untuk kita semua, Sengaja ingin menulis
    sedikit kesaksian untuk berbagi, barangkali ada teman-teman yang sedang
    kesulitan masalah keuangan, Awal mula saya mengamalkan Pesugihan Tanpa
    Tumbal karena usaha saya bangkrut dan saya menanggung hutang sebesar
    1M saya sters hampir bunuh diri tidak tau harus bagaimana agar bisa
    melunasi hutang saya, saya coba buka-buka internet dan saya bertemu
    dengan KYAI SOLEH PATI, awalnya saya ragu dan tidak percaya tapi selama 3 hari
    saya berpikir, saya akhirnya bergabung dan menghubungi KYAI SOLEH PATI
    kata Pak.kyai pesugihan yang cocok untuk saya adalah pesugihan
    penarikan uang gaib 4Milyar dengan tumbal hewan, Semua petunjuk saya ikuti
    dan hanya 1 hari Astagfirullahallazim, Alhamdulilah akhirnya 4M yang saya
    minta benar benar ada di tangan saya semua hutang saya lunas dan sisanya
    buat modal usaha. sekarang rumah sudah punya dan mobil pun sudah ada.
    Maka dari itu, setiap kali ada teman saya yang mengeluhkan nasibnya, saya
    sering menyarankan untuk menghubungi KYAI SOLEH PATI Di Tlp 0852-2589-0869
    agar di berikan arahan. Supaya tidak langsung datang ke jawa timur,
    saya sendiri dulu hanya berkonsultasi jarak jauh. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik,
    jika ingin seperti saya coba hubungi KYAI SOLEH PATI pasti akan di bantu Oleh Beliau

    BalasHapus

Coprights @ 2016, Blogger Templates Designed By Templateism | Templatelib